Campak: Wabah yang Bermula dari Salah Suntik
- bbc
Samoa telah menetapkan keadaan darurat karena campak November lalu. - Getty Images
Rendahnya tingkat vaksinasi sebagian bermula dari meninggalnya dua bayi pada Juli 2018 setelah divaksin campak, gondok dan rubella. Peristiwa ini membuat penduduk setempat takut.
Tetapi meninggalnya anak tersebut kemudian diketahui disebabkan oleh para perawat yang mencampur vaksin dengan pengendur otot yang telah kedaluarsa, bukannya air.
Dua perawat mengakui bersalah dan dihukum penjara lima tahun.
Sebagian besar dari kita telah divaksinasi. - BBC
"Kita harus menegaskan bahwa vaksin sama sekali aman," kata Yett.
"Korban meninggal dikarenakan kesalahan manusia. Tetapi kenyataan bahwa dua anak meninggal pada hari yang sama di lembaga yang sama, jelas meningkatkan ketidakpercayaan terhadap sistem kesehatan dan vaksinasi.
"Ini membuka jalan bagi orang-orang yang ingin menyebarkan informasi tidak benar dan kebohongan."
`Kebohongan dan informasi tidak benar`
Bantuan dari AS, Selandia Baru dan Australia membantu pejabat kesehatan setempat di Samoa dalam mendorong vaksinasi massal.
Tetapi pesan utama terkait krisis saat ini adalah para orang tua seharusnya memvaksinasi anak, kata Yett.
"Orang menyebarkan kebohongan dan informasi tidak benar terkait kabar bahwa vaksinasi membunuh anak-anak," katanya.
"Cara terbaik untuk melindungi anak adalah dengan memastikan mereka diimunisasi. Menolak vaksinasi dan memberikan informasi yang salah membunuh anak. Itu sudah jelas - buktinya berbicara."
Setiap negara seharusnya memiliki tingkat imunisasi di atas 90%, katanya.
Negara Pasifik lain, Tonga dan Fiji juga telah menyatakan keadaan darurat untuk mengatasi wabah campak.
Meskipun demikian, kedua negara itu memiliki tingkat vaksinasi yang jauh lebih tinggi dan sampai sejauh ini tidak mencatat adanya korban meninggal.
Negara yang mengalami lonjakan kasus campak tahun lalu. - BBC
Lonjakan dunia
Di dunia, jumlah kasus meningkat empat kali lipat dalam tiga bulan pertama tahun 2019 dibandingkan tahun sebelumnya, kata WHO.
Sebelum dimulainya vaksinasi di tahun 1963, "wabah besar terjadi setiap dua atau tiga tahun sekali, dan campak membuat sekitar 2,6 juta orang meninggal setiap tahun, kata WHO.