Strategi Petrokimia Gresik Bersaing di Pasar Pupuk Komersil di 2020

Jajaran direksi Petrokimia Gresik.
Sumber :
  • Dokumentasi Petrokimia Gersik.

VIVA – PT Petrokimia Gresik menutup tahun dengan capaian produksi pupuk sebesar 4,61 juta ton atau 99 persen dari Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan (RKAP) 2019. Sedangkan, untuk produksi non-pupuk menembus angka 3 juta ton atau 105 persen dari RKAP 2019. 

Direktur Utama Petrokimia Gresik Rahmad Pribadi mengatakan, kinerja keuangan pada 2019 mencatatkan total pendapatan sebesar Rp29 triliun. Dengan membukukan laba Rp1,2 triliun atau 100 persen dari RKAP 2019 (unaudited). 

"Walaupun sebagian pabrik telah berusia lebih dari 25 tahun, melalui berbagai upaya yang dilakukan, kami berhasil menjaga produktivitasnya tetap baik,” ujar Rahmad dikutip dari keterangannya, Selasa 31 Desember 2019. 
 
Pabrik yang telah berusia tersebut, lanjut Rahmad, menjadi salah satu tantangan strategis perusahan saat ini. Di samping tantangan strategis lainnya, seperti kondisi ekonomi-politik global, ketersediaan gas, pengalihan subsidi pupuk, dan sebagainya. 

Namun menurutnya, hal itu disikapi dengan menggagas program Transformasi Bisnis Petrokimia Gresik (TBPG) yang telah dijalankan sejak awal tahun 2019, Di mana salah satu program utamanya adalah efisiensi produksi.

“Selain itu juga menjadi kesempatan untuk meningkatkan kompetensi dan menambah jam terbang perusahaan dalam mengoperasikan mesin-mesin pabrik,” ujar Rahmad. 

Pada 2020 lanjutnya, Petrokimia Gresik tetap berkomitmen untuk mendukung pemenuhan alokasi pupuk subsidi nasional penugasan pemerintah. Langkah itu sekaligus memperkuat posisi perusahaan di pasar komersil, baik domestik maupun ekspor. 

“Selain penugasan pemerintah melalui pupuk subsidi, Petrokimia Gresik juga tengah serius menggarap pasar pupuk komersil,” tambahnya. 

Hal ini, lanjut Rahmad, mengingat adanya wacana pengalihan subsidi pupuk oleh pemerintah. Sehingga Petrokimia Gresik harus siap bersaing dengan produk pupuk komersil lainnya. 

“Kekuatan Petrokimia Gresik di sektor pupuk komersil adalah kemampuan dalam memenuhi kebutuhan spesifik konsumen, baik spesifik lokasi maupun komoditi,” ungkapnya.  

Rahmad pun optimis, Petrokimia Gresik mampu memperluas pangsa pasar pupuk komersil, terutama untuk jenis pupuk NPK. Di mana perusahaan memiliki kapasitas terbesar di Indonesia, yaitu 2,7 juta ton per tahun. Selain itu, Petrokimia Gresik juga telah berpengalaman hampir 20 tahun dalam memproduksi dan memasarkan pupuk NPK.

“Untuk pupuk NPK subsidi market share kami sekitar 85 persen, namun sektor ritel komersil masih 10 hingga 15 persen. Kami ingin memperkuat di sektor ritel komersil, karena peluangnya masih sangat besar,” ujarnya. 

Selain produk pupuk, Petrokimia Gresik juga memiliki rangkaian produk lainnya seperti benih, pembenah tanah, dekomposer, probiotik, serta didukung anak perusahaan (Petrosida Gresik dan Petrokimia Kayaku) yang memiliki kompetensi dalam pengendalian hama. 

“Sehingga pengawalan Petrokimia Gresik sangat lengkap, sesuai dengan asanya untuk menjadi solusi bagi sektor agroindustri,” ujar Rahmad.