Isu Ekonomi 2020 yang Patut Dicermati
- VIVA/Muhamad Solihin
Keduanya masih memiliki potensi yang cukup baik, terutama di tengah ekspektasi stabilisasi ekonomi dan perbaikan aktivitas perdagangan global. Namun, setelah Developed Markets mencatat kinerja yang tinggi di 2019 (indeks S&P 500 Amerika Serikat naik 29 persen di 2019), pemilihan sektor dan saham harus lebih cermat. Sementara itu, pasar saham kawasan Asia, menawarkan valuasi yang lebih atraktif, dan potensi pertumbuhan earnings yang lebih tinggi di kisaran 10-12 persen (vs. 8-10 persen di Developed Markets). Selain itu, ekspektasi perbaikan aktivitas perdagangan juga dapat menguntungkan kinerja perusahaan di Asia, yang merupakan “pabrik dunia”.
Di awal tahun pasar dikejutkan oleh meningkatnya tensi geopolitik antara Amerika Serikat dengan Iran. Bagaimana tanggapan Anda mengenai hal ini?
MAMI akan terus memonitor perkembangan konflik Amerika Serikat dengan Iran. Saat ini, masih terlalu dini untuk memperkirakan dampak dari konflik ini terhadap ekonomi, karena kita belum tahu apakah konflik ini akan tereskalasi atau akan mereda dalam waktu dekat. Apabila konflik ini tereskalasi, risiko utama terhadap ekonomi adalah kenaikan harga minyak. Iran berada di selat Hormuz, yang merupakan perairan penting dalam logistik industri minyak, di mana sekitar 21 persen dari konsumsi minyak dunia disuplai melalui Selat Hormuz. Minyak merupakan salah satu komponen beban utama bagi perusahaan di beberapa sektor, sehingga kenaikan harga minyak dapat mempengaruhi profitabilitas. Selain itu, kenaikan harga minyak juga dapat berimbas pada inflasi yang merupakan salah satu faktor utama bagi bank sentral global dalam memutuskan tingkat suku bunga.
Beralih ke ekonomi domestik, di 2019 pertumbuhan ekonomi Indonesia relatif stagnan. Bagaimana outlook ekonomi Indonesia di 2020 ini?
Banyak faktor yang menghambat ekonomi Indonesia di 2019, seperti melemahnya aktivitas perdagangan global, dan dari sisi domestik kita juga dibayangi periode pemilu yang berdampak pada tertahannya aktivitas investasi. Kinerja pemerintah juga terdampak, karena jarak antara pemilu dan pelantikan Presiden yang panjang.
Untuk 2020, dalam pandangan MAMI, iklim ekonomi Indonesia akan berangsur membaik. Kondisi global yang lebih kondusif dapat mendorong minat investasi ke pasar negara berkembang yang juga akan menguntungkan Indonesia. Selain itu, ekonomi Indonesia di 2020, juga akan mendapat efek positif dari penurunan suku bunga Bank Indonesia di 2019. Dampak penurunan suku bunga ke ekonomi biasanya tidak instan dan terjadi secara gradual.