Isu Ekonomi 2020 yang Patut Dicermati
- VIVA/Muhamad Solihin
Yang menjadi fokus utama di 2020, adalah reformasi kebijakan pemerintah untuk menarik investasi asing. Kecepatan eksekusi kebijakan reformis seperti revisi UU tenaga kerja, pemotongan pajak pendapatan korporasi, penyederhanaan regulasi/birokrasi diharapkan menjadi katalis ekonomi dan pasar finansial 2020 untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan daya saing.
Bank Indonesia menurunkan suku bunga empat kali di 2019. Apakah tren ini masih akan berlanjut di 2020?
Dilihat dari beberapa indikator, Bank Indonesia masih punya ruang untuk menurunkan suku bunga. Tingkat suku bunga riil Indonesia saat ini, merupakan salah satu yang tertinggi di antara negara kawasan, sehingga membuka ruang bagi BI untuk menurunkan suku bunga lebih lanjut. Namun, sepertinya BI menargetkan untuk menjaga tingkat suku bunga riil Indonesia lebih tinggi dibandingkan dengan negara kawasan untuk menjaga daya tarik aset Indonesia. Karena itu, pergerakan suku bunga ke depannya akan bergantung pada tren suku bunga global dan regional. Yang jelas, arah kebijakan BI diperkirakan akan tetap akomodatif di 2020. Jadi, walaupun tingkat suku bunga tidak turun banyak, BI masih bisa melakukan pelonggaran kebijakan makroprudensial untuk mendorong pertumbuhan kredit.
Kinerja pasar saham stagnan di 2019, dengan indeks harga saham gabungan (IHSG) tumbuh 1,7 persen. Sementara itu, pasar obligasi tumbuh di atas 10 persen. Bagaimana pandangan Anda terhadap pasar saham dan obligasi Indonesia di 2020?
MAMI memandang positif potensi di pasar saham dan obligasi tahun ini. Tahun 2019, merupakan periode yang suportif bagi pasar obligasi didukung oleh tren penurunan suku bunga dan tingkat inflasi yang rendah. Menurut MAMI, iklim yang suportif ini masih akan berlanjut di 2020. Suku bunga BI diperkirakan tetap akomodatif, inflasi terkendali, dan nilai tukar Rupiah terjaga. Selain itu, kondisi pasar obligasi dunia juga suportif bagi pasar obligasi Indonesia. Saat ini, sekitar US$12 triliun obligasi pemerintah global menawarkan imbal hasil negatif, yang berpotensi mendorong investasi ke pasar obligasi yang memiliki imbal hasil tinggi seperti di Indonesia
Tidak hanya di pasar obligasi, kami juga memiliki pandangan yang konstruktif untuk pasar saham Indonesia. Setelah kinerja tahun 2018 dan 2019, yang mengecewakan, pasar saham mulai menunjukkan outlook yang lebih positif. Perubahan terutama terjadi dari sisi pasar global dengan tensi dagang Amerika Serikat – China, yang mereda dan juga ekspektasi membaiknya aktivitas perdagangan global.