Kisah Mahasiswa Indonesia Rindu Wuhan
- abc
"Kalaupun memang sulit [mencari kerja], mungkin saya akan mulai mencicil mencari data untuk disertasi saja dulu," katanya.
Kerinduan pada Wuhan
Supplied: Yuliannova Chaniago
Bila kebanyakan orang mengenal Wuhan hanya sebagai kota sarang virus yang mematikan sehingga enggan untuk pergi ke sana, tidak demikian bagi Yuli, Eva, dan Gerard.
Sebelum virus corona menyerang, Wuhan adalah kota yang mereka sebut "sangat menyenangkan".
"Terutama saat musim semi, karena menyenangkan untuk jalan-jalan," kata Eva.
Bagi mereka, Wuhan yang mereka kenal adalah kota yang dinamis dan hidup, serta kaya kuliner.
Supplied: Yuliannova Chaniago
Salah satu kuliner khas yang dirindukan ketiganya adalah mie tradisional Wuhan yang bernama "Reganmian".
"Sebenarnya sederhana, tapi dekat di hati. Mie ini hanya mie biasa dengan bumbu kacang, wijen, dan kecap asin," kata Eva.
Kedai dekat kampus mereka menjual mie ini dengan harga yang kalau dirupiahkan hanya Rp 8,000 saja.
"Itu porsinya besar. Harga segitu saya bisa makan berdua dengan Eva," kata Yuli tergelak.
"Enak dan murah meriah, dan kadang kalau sudah makan pagi, siang tidak perlu makan ngenyangin banget
Supplied: Yuliannova Chaniago
Selain itu, Gerard juga mengaku rindu pada kehidupan di universitas, terutama kegiatan yang dilakukan bersama dengan mahasiswa Indonesia lainnya.
Misalnya festival budaya yang diadakan setiap bulan Maret atau April.
Tahun lalu, mahasiswa Indonesia diberi kesempatan membuka festival tersebut dengan tarian Papua.
"Kami sebenarnya nggak punya kostum saat itu. Akhirnya dapat bantuan dari teman-teman Indonesia lain di Hubei," kata Yuli.
Supplied: Yuliannova Chaniago
Pesan untuk WNI di Wuhan
Kerinduan Yuli, Eva, dan Gerard terhadap kota Wuhan juga tak lepas dari kerinduan mereka terhadap Humaidi Zahid atau Omed.