Harga Cabai Keluar dari Perhitungan Inflasi?

Agus Martowardojo dan Anny Ratnawati
Sumber :
  • Antara/ Widodo S Jusuf

VIVAnews - Badan Pusat Statistik (BPS) sedang mengkaji untuk mengeluarkan atau minimal mengurangi bobot kontribusi komponen cabai dalam perhitungan inflasi. Hal itu dilakukan agar laju inflasi benar-benar sesuai dengan perhitungan tingkat kesejahteraan.

"Kemarin, saya dengar BPS akan melakukan review mengenai itu. Itu bagus," kata Wakil Menteri Keuangan, Anny Ratnawati, di Kantor Kementerian Keuangan, Jalan Wahidin, Jakarta, Jumat 7 Januari 2010.

Menurut Anny, kelompok komoditas (bundle of commodity) yang berpengaruh pada inflasi selama ini memang selalu ditinjau tingkat konsistensinya dan kelayakannya sebagai penyumbang pada inflasi.

Inflasi, ujar dia, sebenarnya ukuran yang dampaknya berkaitan dengan tingkat kesejahteraan masyarakat. "Jadi, memang bundle of commodity-nya harus menangkap itu," kata Anny.

Anny menuturkan, pemerintah sepenuhnya akan menyerahkan teknik penentuan inflasi tersebut kepada BPS. Begitu juga dengan komoditas apa saja yang bisa dikeluarkan atau dikurangkan bobotnya.

Ketika disinggung apakah ini hanya terbatas pada komoditas cabai, Anny mengatakan bahwa ketentuan perhitungan kontribusi penyumbang inflasi berlaku untuk seluruh komoditas. Namun, pada kondisi saat ini, komoditas cabai memang menjadi pemicunya.

"Kan di sana ada beberapa jenis cabai yang masuk. Ada cabai merah, cabai rawit atau apa. Padi masuk, beras juga masuk. Jadi, supaya BPS melihat kembali lah," kata Anny.

Terkait persoalan di daerah yang juga turut memicu inflasi, dia mengatakan masalah distribusi memang menjadi perhatian utama. "Makanya, kami harus memperbaiki dari sisi distribusi. Terutama, distribusi dan ketersediaan di masing-masing wilayah itu harus lebih baik," ujarnya. (art)