Asal-usul Tionghoa Kampung Ketandan

Sumber :
  • http://ejawantahtour.blogspot.com/

VIVA.co.id - Meski tak banyak klenteng peninggalan bersejarah di Yogyakarta namun keberadaan kaum Tionghoa di Yogyakarta masih terlihat di beberapa lokasi di pusat kota Yogyakarta. Seperti halnya di kawasan Kampung Ketandan, Pajeksan, Patuk, dan sejumlah lokasi lainnya yang dikenal dengan kompleks Pecinan Yogyakarta.

Dan perlu diketahui, sesungguhnya, perkembangan kaum Tionghoa di Yogyakarta tidak bisa lepas dari sejarah Kampung Ketandan yang berada di utara Pasar Beringharjo Yogyakarta. Hingga kini, kampung ini masih banyak dihuni oleh warga Tionghoa.

Kampung Ketandan memang tidak seperti kampung pecinan di kota lain di Indonesia yang sangat kental dengan hiasan atau bangunan bernuansa etnis Tionghoa. Namun demikian di kampung ini terdapat hiasan dengan huruf China dan ada tugu yang dibentuk dengan konsep Tionghoa.

Tjundakan Prabawa, salah satu tokoh Tionghoa di Kampung Ketandan, menceritakan sejarah kampung ini. Kisah Ketandan, katanya, tidak lepas dari sejarah Tan Jin Sing yang merupakan tokoh Tionghoa yang terkenal antara tahun 1760 sampai 1831.

Tan Jin Sing sendiri merupakan tokoh Tionghoa yang diangkat sebagai bupati dengan gelar Kanjeng Raden Tumenggung Secadiningrat. Ia pun tinggal di Kampung Ketandan.

Menurut cerita Prabawa, dari penelusuran yang dilakukannya di Belanda, diketahui ada sebuah peta Yogyakarta masa Tan Jin Sing hidup. Saat itu ditemukan sebuah rumah dengan arsitektur Jawa, Eropa dan China yang tak lain merupakan milik Tan Jin Sing. Luasnya sekitar 700 meter.

Berdasarkan sejarahnya, Tan Jin Sing merupakan putra bangsawan keturunan Jawa--Ray Patrawijaya (keturunan Sultan Amangkurat dari Mataram). Namun saat orangtuanya meninggal, Jin Sing diasuh oleh Oei The Long.

Tan Jin Sing yang besar di lingkungan Tionghoa, dikenal pandai.

"Tan Jin Sing dikenal sangat pandai dan menguasai tiga bahasa mulai dari Inggris, Hokian dan Mandarin dan dia sempat hidup di klenteng selama delapan bulan," jelasnya.

Setelah dewasa, Tan Jin Sing dekat dengan Thomas Stamford Bingley Raffles karena kepandaianya, dan menjadi perantara hubungan dengan Sultan Hamengku Buwono III. Karena dekat dengan HB III, ia diangkat sebagai bupati pada 1813 dengan gelar Kanjeng Raden Tumenggung Secadiningrat. Sampai sekarang atas jasanya, nama Tan Jin Sing juga dijadikan nama sebuah jalan di Yogyakarta.