Kemenristek Punya Tim Khusus untuk Teliti Virus Zika

Menristekdikti, Muhammad Nasir, Kamis (5/11/2015)
Sumber :
  • VIVA.co.id/Mitra Angelia

VIVA.co.id – Virus Zika semakin tersebar luas di belahan dunia. Kekhawatiran awal atas mewabahnya virus itu muncul, setelah ditemukan korban yang terinfeksi di Amerika Serikat, kemudian berlanjut di Eropa dan terakhir di Asia, yaitu China.
 
Setiap negara pun mulai waspada, agar virus yang berujung pada mikrosefali, atau tidak berkembangnya otak pada bayi ketika dalam janin itu tidak merajalela. Indonesia juga termasuk negara yang mewaspadai meluasnya virus tersebut.

Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi Mohamad Nasir mengatakan, tim kementeriannya tengah melakukan penelitian untuk menangkal dan obat untuk virus Zika.
 
“Tim kami ada namanya Lembaga Eijkman telah melakukan penelitian-penelitian, perkembangan-perkembangan tentang Zika itu,” ujar Nasir kepada VIVA.co.id saat ditemui di Universitas Pertamina, Jakarta Selatan, Kamis 11 Februari 2016.
 
Nasir menjelaskan, Indonesia, punya peneliti handal yang telah melahirkan antivirus untuk penyakit Demam Berdarah (DBD). Diketahui virus Zika sama dengan DBD yang bermula dari gigitan nyamuk. Tetapi, Nasir menambahkan, menurut peneliti Eijkman gejala virus Zika tidak sama dengan DBD.
 
“Nah, Eijkman sekarang punya tugas berikutnya, ada efek yang lain, ada penyakit yang lain, atau virus yang lain. Yaitu, yang dari nyamuk itu. Saya tugasi untuk melakukan penelitian ke depan bagaimana mengantisipasi hal tersebut,” kata Nasir.

Untuk konteks di Indonesia, virus Zika sudah pernah ditemukan di Indonesia puluhan tahun silam. Hal itu diungkapkan Menteri Kesehatan Nila F. Moeloek.

"Dari tahun 1977 hingga 1981 ditemukan di Klaten dan NTB," ujar Nila dalam keterangan pers usai rapat kabinet terbatas, di Kantor Kepresidenan, Jakarta, Rabu 3 Februari 2016. (asp)