Ini Pemilik Transportasi Online
Rabu, 23 Maret 2016 - 06:31 WIB
Sumber :
- VIVA.co.id/Ikhwan Yanuar
Pertama kali diluncurkan, GrabTaxi bernama MyTeksi. Saat itu, Tan Hooi masih cuti dari pekerjaannya di McKinsey. Melihat peluang lebih start-up-nya lebih bagus, dia lalu memutuskan untuk resign dari McKinsey di Amerika Serikat dan kembali ke Malaysia membesarkan MyTeksi.
Dia lalu mengubah nama MyTeksi menjadi GrabTaxi dengan tiga bidang utama, yakni GrabHitch, layanan ride sharing (berbagi kendaraan) sosial yang terjangkau untuk pada komuter yang bisa menjadi solusi transportasi bagi masyarakat perkotaan.
GrabHitch dapat menjadi pilihan bagi para penumpang yang menginginkan layanan transportasi door-to-door dengan harga yang terjangkau. Pengemudi dapat berbagi kendaraan mereka, dengan para penumpang yang memiliki tujuan sama untuk menutup biaya perjalanan mereka.
Kemudian, pada akhir Januari 2016 lalu, Chief Executive Officer (CEO) Grab, Anthony Tan, mengumumkan pengubahan identitas GrabTaxi dengan Grab.
Perubahan identitas ini dilatarbelakangi beberapa alasan. Perusahaan asal Malaysia itu tidak hanya menyasar transportasi jenis mobil dengan pemesanan taksi melalui aplikasinya. Namun, sudah mengekspansi bisnisnya ke layanan lain.
"Kami pun menambah jasa transportasi baru di seluruh wilayah, baik dengan mobil ataupun sepeda motor, juga jasa pengiriman dan masih banyak lagi. Ide sederhana kami pun tumbuh menjadi sesuatu yang jauh lebih baik," ujar Anthony.
Uber
Pendiri Uber adalah duet Travis Kalanick dan Garret Camp. Dua anak muda ini sukses mengembangkan aplikasi yang menghubungkan penumpang dengan pemilik kendaraan untuk dijadikan taksi itu dan masuk ke dalam daftar miliarder yang dilansir Forbes.
Keduanya bertemu di sebuah konferensi teknologi di Paris. Garret kemudian mengungkapkan idenya untuk menciptakan layanan mobil mewah yang nyaman dan terjangkau bagi konsumen. Setahun kemudian, lahirlah Uber.
Uber muncul berdasarkan pengalaman Garret. Dia terkena macet padahal harus ke sebuah konferensi. Saat itu, ia pun tak mendapatkan mobil, padahal hal itu dinilai soal simpel, dan itu menjadi hal yang bodoh dan amat buruk.
Akhirnya, dia membuat perangkat lunak untuk dirinya sendiri dan teman-temannya, yang memungkinkan untuk sekali pencet dalam suatu tombol, maka akan langsung mendapatkan mobil.