BPPT: Sawit Bisa Cukupi Kebutuhan Energi Nasional

Pekerja sedang memasukkan minyak sawit (CPO) ke kapal tongkang.
Sumber :
  • VIVAnews/Tri Saputro

VIVA.co.id – Indonesia telah memasuki era lampu kuning dalam penyediaan energi nasional. Status net importir minyak sudah dipegang Indonesia.

Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) memperkirakan bahwa akan terus terjadi penurunan pasokan energi. Sebab, kebutuhan minyak secara nasional tidak bisa diimbangi dengan penyediaan melalui produksi dalam negeri.
 
Direktur Pusat Teknologi Sumber Daya Energi dan Industri Kimia BPPT, Adiarso, menyebut bahwa guna mengatasi itu maka langkah diversifikasi bahan bakar menjadi solusi untuk diambil.
 
“Pemanfaatan potensi biomassa harus mulai diperluas karena dari semua jenis energi terbarukan, hanya biomassa yang dapat berperan ganda, yakni sebagai sumber bahan bakar (padat) pembangkit listrik, maupun sebagai bahan baku untuk produksi bahan bakar cair dan gas,” ujar Adiarso saat pemaparannya di Gedung BPPT, Jakarta, Selasa 19 April 2016.
 
Maka, BPPT merekomendasikan bahan bakar berbasis sawit untuk menjadi salah satu diversifikasi bahan bakar fosil. Menurut Adiarso, bahan bakar berbasis sawit menjadi pilihan strategis mengingat Indonesia merupakan penghasil minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) terbesar di dunia, yakni 32 juta ton per tahun.
 
“Begitu juga dengan limbah cair dan limbah padatnya yang juga melimpah,” katanya.
 
Selama ini, Adiarso menyebut, inovasi teknologi bahan bakar berbasis sawit yang telah dikembangkan BPPT adalah pure plant oil (PPO), biodiesel, green petroleum, dimethyl ether (DME), bioethanol, dan biogas.
 
BPPT pun berharap untuk mempertimbangkan pentingnya keberlanjutan dalam penyediaan energi nasional dan dalam rangka meningkatkan ketahanan serta kemandirian nasional di bidang energi. Serta, demi kontinuitas penyediaan bahan bakar ramah lingkungan, Indonesia, ujar dia, perlu membangun sistem industri energi khususnya bahan bakar alternatif nasional.
 
Sebagai informasi, Adiarso menambahkan, untuk potensi limbah cair atau dari produksi sawit saja bisa menghasilkan energi listrik mencapai 1.000 megawatt. Pada 2025, target penggunaan Energi Baru Terbarukan (EBT) adalah 23 persen, dengan 13 persen bisa dipenuhi dari biomassa.