IPB Ciptakan Robot Petani, Bisa Menanam dan Menyiram

Ari Wakhid (kiri) dan Riski Agung
Sumber :
  • Mitra Angelia/Viva.co.id

VIVA.co.id – Sejumlah mahasiswa jurusan Teknik Mesin dan Geosistem, Institut Pertanian Bogor (IPB), menciptakan robot yang diberdayakan untuk bidang pertanian. Robot tersebut dinamai dengan TRX yang mengusung teknologi Terresterial Robotic Vehicle (TRV).

"TRV baru dirancang untuk militer. Bisakah untuk pertanian? Inilah yang sedang kami rancang," ujar salah satu mahasiswa yang merancang TRX, Ari Wakhid saat mempresentasikan teknologi robotika mereka dI Hotel Pullman, Jakarta, Rabu, 20 April 2016.

Ari memaparkan, yang melatarbelakangi mereka mengusung teknologi robotika untuk bidang pertanian dikarenakan kurangnya angka teknologi robotika di bidang tersebut. Kesulitan penggunaan teknologi robotika untuk bidang pertanian, menurutnya disebabkan oleh lahan yang bergelombang dan tidak rata.

Mereka pun mengembangkan robot yang bisa 'berjalan' di lahan yang bergelombang dan tidak rata. Maka dari itu, kata Ari, mereka menggunakan TRV yang membuat robot dapat berjalan di lahan yang tidak rata. TRV ini dilengkapi dengan roda crawler atau biasa disebut dengan trek.

"Inovasi, penggunaan (bahan) kayu untuk trek karena nilai adhesinya rendah, berakibat positif dan tanah tidak akan terlalu lengket (pada trek), pergerakan jadi bebas," kata Ari.

Otomatis, dengan penggunanaan kayu untuk trek, ungkap Ari 'tubuh' TRX pun lebih ringan, memudahkannya untuk menerjang jalan bergelombang. Bahan kayu yang digunakan adalah jenis Merbau.

"Sebenarnya pertimbangan, Merbau dan Pinus. Namun Merbau lebih rendah adhesinya makanya kami gunakan," imbuhnya.

Ari menuturkan, TRX telah diujicobakan untuk tiga fungsi, yaitu untuk menanam dengan mengandalkan alat berupa sprayer yang disematkan di bagian belakang. Lalu untuk mengontrol tanaman, dengan bagian atas TRX bisa diletakkan kamera yang fleksibel, seperti GoPro, Bpro dan sejenisnya.

Kemudian untuk menanam kedelai, pada TRX disematkan alat yang bisa menggali lubang sendiri. Biji ditaruh di dalam wadah yang merupakan bagian dari tubuh TRX, dan akan terbuka untuk menjatuhkan biji pada lobang.

"Keseluruhan (perintah) dimasukkan dalam device android. Bisa terhubung dengan wi fi dan bluetooth," katanya.

Mengenai kendali dengan alat, TRX menggunakan 'perantara' wifi yang bisa berjarak 50 meter. Namun untuk bluetooth hanya dua meter saja. TRX dapat berjalan di lahan kering dengan kecepatan 0.788 kilometer per jam.

Ari menambahkan, bahwa masih diperlukan telaah lebih lanjut mengenai TRX, sebab masih ada keperluan lain yang mungkin bisa digunakan dengan TRX ini. Bahkan meski telah dikembangkan sedemikian rupa, masih terdapat sedikit error.

Untuk prototipe ini, Ari mengungkapkan, dibutuhkan dana sekitar Rp8 juta. TRX bisa juga dilengkapi dengan kamera untuk visual. Namun kamera ini akan dijual secara terpisah.

(mus)