Ambisi Pebiliar Cantik Usai Curi Perhatian di PON Jabar 2016

Pebiliar Kalimantan Barat, Silviana
Sumber :
  • Raden Riki Ilham Rafles Karami/VIVA.co.id

VIVA.co.id – Silviana sukses mencuri perhatian penggemar olahraga biliar yang mengikuti Pekan Olahraga Nasional (PON) XIX/2016 Jawa Barat. Dia menjadi pebiliar muda yang berhasil menggondol 2 medali emas dari nomor 10 ball tunggal dan ganda campuran.

Meski baru berusia 17 tahun, namun gadis yang akrab disapa Aina tersebut seolah tak menunjukkan rasa groginya. Tampil membela Kalimantan Barat dan 3 kali menghadapi wakil tuan rumah, tekanan dari penonton amat besar.

Korban pertamanya yakni ganda campuran Jabar, Amanda Rahayu/Dzulfikri. Dalam laga final yang dihelat di Graha Manggala Siliwangi, Sabtu akhir pekan lalu, Aina yang berpasangan dengan Rico Herman menang dengan skor telak 6-1.

Tak sampai di situ, selang beberapa jam kemudian, dia kembali turun di semifinal nomor 10 ball tunggal putri melawan jagoan tuan rumah, Nony Kristiani. Aina kembali bermain cemerlang dengan menang 7-5.

Aina mengakui, jika hari itu dia benar-benar merasa lelah. Dia harus pandai-pandai menjaga fokus agar bisa mempertahankan performa terbaik. Beruntung, keluarganya turut datang ke Bandung untuk memberi dukungan.

"Jujur saja, itu saya capek banget. Main dari jam 10 (pagi), jam 1 (siang) main, dan jam 4 (sore) main. Mungkin karena ada dukungan dari keluarga juga orang-orang yang kita sayang, jadi meski lelah harus tetap semangat," ujarnya.

Gadis yang pada 29 September 2016 mendatang akan genap berusia 18 tahun tersebut memiliki ambisi tersendiri usai menuai sukses di PON kali ini. Berlaga di Kejuaraan Dunia serta bisa mengharumkan nama bangsa menjadi tujuan utamanya.

"Sudah dua kali ikut kejuaraan dunia di Beijing (2013) dan Taiwan (2016), cuma belum ada hasil (juara)," ungkap pebiliar yang baru saja lolos seleksi pelatnas pada Februari 2016 lalu tersebut.

Awal Mengenal Biliar

Perkenalan Aina dengan biliar terjadi saat masih duduk di bangku kelas 5 Sekolah Dasar (SD). Saat itu, dia sering singgah ke rumah biliar milik sang Paman, Leo Kamarudin. Dari awalnya hanya melempar bola, kemudian dia mulai belajar secara perlahan.

Melihat bakat keponakannya, Leo kemudian mengajari Aina lebih dalam mengenai teknik bermain biliar. Hal itulah yang hingga kini terus diingat oleh Aina. Sebab tanpa bimbingan pamannya, hasil yang kini dia rasakan mungkin tidak pernah ada.

Dukungan sang paman, diakui Aina, semakin dikuatkan oleh kedua orangtuanya. Dia yang juga memiliki minat tinggi kepada olahraga bulutangkis sengaja diarahkan untuk lebih fokus ke biliar.

"Olahraga yang disenangi banyak, bulutangkis dan basket. Tetapi, menurut orangtua biliar lebih baik. Tandingnya di indoor dan pakaiannya rapi, jadi kesannya lebih elegan," tuturnya.

Yang membuat Aina semakin tertarik dengan biliar adalah soal menjaga fokus dan mood saat bertanding. Sebab, olahraga bola sodok ini dinilainya sangat sensitif bagi orang yang memainkannya.

"Yang nentuin menang atau kalah itu diri kita sendiri. Kalau ingin maju kita harus usaha, karena usaha tidak pernah mengkhianati," tegasnya.

PON 2016 bukanlah kali pertama baginya. Saat masih berusia 14 tahun, Aina menjadi bagian Kalbar berlaga di PON XVIII/Riau 2012. Saat itu dia sudah mampu mempersembahkan 1 medali perak dari ganda campuran, dan 1 medali perunggu dari ganda putri. (one)