Kacamata Kayu Produksi Mantan Napi Diminati Pasar Eropa

Kacamata
Sumber :
  • Lucky Aditya/VIVA.co.id

VIVA.co.id – Kacamata merupakan pelengkap gaya atau aksesori fesyen yang banyak dipakai masyarakat. Lazimnya bingkai kacamata terbuat dari plastik, alumunium, titanium atau metal ringan, namun di tangan pemuda di Kota Malang, bingkai kacamata dibuat dari kayu.

Sepintas mirip dengan kacamata pada umumnya, tetapi kacamata yang diberi label Sadar Hati Wood (Sahawood) ini seluruh bahannya terbuat dari barang bekas. Mohammad Theo Zainuri, pemilik usaha Sahawood mengatakan, ide ini bermula dari lembaga swadaya masyarakat (LSM) Sadar Hati, sebuah lembaga yang memberi pendampingan kepada orang-orang yang menjadi korban narkoba dan penderita HIV/AIDS.

"LSM membutuhkan keberlangsungan organisasi, baik untuk program dan komunitasnya. Ide awal pembuatan kacamata kayu dari mitra kerja Australia yang menunjukan produk kacamata kayu," kata Theo.

Dia memperkerjakan mantan pengguna narkoba, mantan narapidana dan wanita miskin. Alasannya, mereka adalah korban dari sebuah sistem kebijakan penanganan narkoba yang salama ini menganggap mereka sebagai pelaku kriminal, sampah masyarakat dan lain-lain, sehingga akses mendapatkan pekerjaan jadi sulit.

Theo menjelaskan, awalnya para pekerja merasa tidak mampu membuat produk kacamata kayu karena melihat bentuknya yang rumit dan detail. Theo pun tak mau putus asa, beberapa kali dia memberikan pemahaman dengan menunjukkan sejumlah tayangan proses pembuatan kacamata kayu di YouTube.

"Akhirnya mereka mau, termasuk ketika dijelaskan bahwa mereka hanya produksi, alat-alat dibantu serta pemasaran dan penjualan oleh saya maka mereka merasa yakin dan mau belajar," ucap Theo.

Dia mengaku seluruh keahlian didapat secara otodidak, tidak ada yang mengajari melainkan belajar bersama-sama. Dirinya mengakui hanya memberi informasi terkait pembuatan dan bahan.

Dibutuhkan waktu sekitar enam bulan untuk bisa menghasilkan produk yang memiliki nilai seni tinggi. Setelah hasilnya dianggap layak jual, dia menawarkan kepada rekannya di Australia.

"Dia bilang sudah bagus, kemudian dia kontak rekannya di Inggris, kemudian kami dapat order. Mitra kerja saya yang Australia juga terlibat terus dalam mendorong kami dan support informasi, kebutuhan material dan lain-lain," tutur Theo.

Dia mengaku modal awal dari produksi kacamata kayu berasal dari dana pinjaman Yayasan Sadar Hati. Sementara jumlah pekerjanya saat ini sekitar 10 orang.

"Kami masih selektif memilih pekerja. Tidak menerima yang masih pakai narkoba, yang bukan mantan pengguna narkoba dan mantan napi. Saat ini, yang mantan napi 40 persen dan 60 persen mantan pengguna narkoba. Yang mantan napi tersebut juga mantan pengguna narkoba," tutur Theo.

Untuk bahan pembuatan, kayu yang dipilih adalah produk ramah lingkungan, bahan daur ulang pabrik furnitur, kusen dan kayu-kayu bekas bongkaran rumah, sedangkan engsel kacamata dari rantai bekas. Selain itu, kayu memiliki corak dan serat yang bagus serta unik, sehingga kacamata yang dihasilkan beda.

Theo mengaku Sahawood mampu membuat 25 kacamata dalam sepekan. Harga jualnya bervariasi mulai Rp450 ribu sampai Rp600 ribu.

Setiap hari, dia mampu menjual dua hingga tiga kacamata. Penjualan paling banyak dilakukan dengan cara online, karena mampu menyasar semua konsumen.

"Ya mulai Singapura, Inggris, Australia, Malaysia, Jerman dan lokal Indonesia. Ada beberapa tawaran kerja sama untuk jadi distributor di Malaysia, Singapura, dan Bali. Di Bali sudah ada retail store yang menjual produk kami. Yang lainnya masih kami jajaki," kata Theo.

Dia mengungkapkan omzet produksi kacamata per bulan bisa mencapai Rp5 juta hingga Rp10 juta. Pendapatan itu dibagi secara rata kepada para pekerja.

Dia bersama Sahawood mengaku tidak terlibat dalam pembagian hasil keuntungan, karena pihaknya berkeinginan mengajarkan manajemen usaha kepada mantan pengguna narkoba dan napi. Target ke depan adalah memperbesar kapasitas produksi, memperbaiki kualitas dan memperbesar pangsa pasar untuk meningkatkan pendapatan.