LIPI Sayangkan MEA Tak Beri Banyak Manfaat untuk RI

Aktivitas bongkar muat peti kemas di Pelabuhan Tanjung Priok.
Sumber :
  • VIVA.co.id/Anhar Rizki Affandi

VIVA.co.id – Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia mencatat pelaksanaan Masyarakat Ekonomi ASEAN yang sudah berjalan satu tahun, belum terlihat secara signifikan pada peningkatan ekonomi negara. Hal tersebut dapat terlihat dari nilai ekspor Indonesia yang tercatat tak naik secara signifikan.

Ekonom dan Peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Maxensius Tri Sambodo mencontohkan porsi ekspor non minyak dan gas Indonesia ke negara ASEAN antara 2015-2016 hanya meningkat sebesar dua persen (dari 20 persen ke 22 persen) dari total ekspor Indonesia ke berbagai negara. 

Sementara itu, net ekspor Indonesia ke ASEAN hanya naik sekitar US$1,2 juta, dari periode Januari-Oktober 2015 sebesar US$1,6 juta menjadi US$2,7 juta, pada periode yang sama 2016. 

Sedangkan, porsi impor barang dari negara ASEAN ke Indonesia saat ini masih sekitar 27 persen, tidak mengalami perubahan untuk periode yang sama dari Januari-Oktober 2015.

Menurut Max, belum optimalnya hubungan kemitraan Indonesia dengan negara-negara ASEAN dalam MEA, salah satunya dipengaruhi oleh kondisi negara-negara ASEAN lainnya yang juga sedang melakukan konsolidasi ekonomi dan politik. 

"Yang harus kita kejar sebetulnya Indonesia dituntut oleh negara ASEAN untuk outward investment (investasi keluar). Tidak hanya menunggu masuknya aliran barang dan jasa dari negara lain, tapi harus proaktif membangun komunitas masyarakat ASEAN dengan mengembangkan investasi keluar," ujar Max di kantornya, Rabu, 14 Desember 2016.

Dia mengungkapkan, langkah Indonesia tersebut bisa dilakukan seperti dengan melakukan berbagai investasi langsung di berbagai sektor seperti yang dilakukan di Vietnam yaitu melakukan investasi pembangunan pabrik pengolahan PT Semen Indonesia.

Data nilai investasi dari negara-negara ASEAN ke Indonesia sendiri menunjukkan penurunan. Pada 2014 total nilai investasi negara-negara ASEAN sejumlah US$13,08 juta. Lalu, pada 2015, nilai investasi tercatat menurun menjadi sebesar US$9,6 juta. Angka tersebut ternyata terus menurun pada 2016 menjadi US$5,4 juta. 

"Dalam DNI (Daftar Negatif Investasi) kita berikan cukup besar keberpihakan untuk investor yang datang dari ASEAN. Ini harus kita pacu agar one community dan one identity ada. Tidak cuma namanya saja satu komunitas tapi tidak ada indentitas," ucapnya. 

Namun, LIPI menilai proporsi investasi dari negara-negara ASEAN ke Indonesia sudah cukup besar, yaitu di atas 50 persen, bahkan pada 2014 mencapai 60 persen.