Pertamina Harus Kebal Terhadap 'Mafia'
- VIVA.co.id/Ikhwan Yanuar
Oleh karena itulah nanti SPBU-SPBU mini menjadi agen premium minyak solar, itu diperbanyak. Mencontoh di Rusia, SPBU Rosneft ada lima juta, SPBU Pertamina di Indonesia hanya lima ribuan.
Di luar negeri SPBU-SPBU kecil-kecil, kalau kita SPBU-nya besar-besar, sehingga investasinya menjadi mahal.
Jadi yang kita akan kembangkan adalah SPBU mini yang investasinya kecil. Mungkin dijual salah satu BBM, misalnya premium saja, atau solar saja, atau premium dan solar. Dengan demikian di daerah-daerah terdalam, swasta bisa membangun SPBU dan masyarakat tidak harus pergi terlalu jauh untuk membeli BBM.
Sekarang membanjir pengecer yang tidak resmi, makanya kita tertibkan. Boleh mendapatkan laba tetapi jangan terlalu besar, misalnya 10 persen.
Kita pun tidak menyangka di daerah-daerah terpencil seperti Papua, ada pimpinan daerah yang tidak suka dengan program BBM satu harga.
Kenapa?
Karena dia sebagai trader di situ, keuntungannya lebih besar. Kadang-kadang kita sedih juga, di daerah tertinggal seperti itu seorang pimpinan daerah tega-teganya mengambil keuntungan yang lebih besar dari rakyat. Ini terkadang menyedihkan.
Jadi tantangannya BBM bukan hanya pada Pertamina menangani biaya. Tapi, sesungguhnya di sana juga ada yang mendapatkan kenikmatan dengan selisih harga yang besar itu.
Bagaimana Anda menyeimbangkan keuangan Pertamina, agar tidak merugi?
Pertama, bagaimana menyediakan infrastruktur di sana, tidak semuanya pada aspek harga. Kemudian kedua, bagaimana kami efisiensi, kita harus efisiensi.
Saya akan gunakan seluruh infrastruktur di Pertamina untuk mengetahui kalau seandainya ada inefisiensi di berbagai tempat. Jadi ruang inefisiensi sudah sangat terbatas, dan perlu informasi yang banyak untuk mendapatkan masukan agar kita lebih efisien.
Ketiga, Pemerintah mendukung Pertamina dari sisi hulunya, jadi nantinya kalau sudah keadaan normal di level harga minyak US$50-US$60, maka bisnis upstream akan sangat membantu terhadap penugasan Pertamina di retail.
Ini sudah terbukti apa yang dilakukan pemerintah. Blok Mahakam diberikan kepada Pertamina, ONWJ (Offshore North West Java), nanti sebentar lagi kami juga mengincar Blok Sanga-Sanga dan lain-lain. Kalau itu dimiliki Pertamina, maka Pertamina akan mendapatkan kapasitas produksi migas yang lebih tinggi dan keuntungan di upstream yang lebih tinggi, nah ini yang akan kita pakai subsidi untuk rakyat.