Bank Dunia Beri Hibah RI US$55 Juta untuk Proyek Panas Bumi

Lokasi proyek pengolahan energi panas bumi.
Sumber :
  • Antara/ Novrian Arbi

VIVA.co.id – Dewan eksekutif Bank Dunia pada Kamis waktu Washington, atau Jumat dini hari waktu Jakarta, telah menyetujui hibah sebesar US$55,25 juta, atau setara Rp735,3 miliar (kurs Rp13.310 per dolar AS) untuk mendukung proyek pengembangan Hulu Energi Panas Bumi di Indonesia. Hibah ini bertujuan memfasilitasi investasi pembangkit listrik panas bumi. 

Dalam keterangan resmi yang disampaikan Bank Dunia, Jumat 10 Februari 2017, hibab ini memiliki dua komponen dengan tujuan berbeda. Pertama adalah Clean Technology Fund (CTF) memberi kontribusi US$49 juta untuk mendukung pengembangan infrastruktur, serta pengeboran eksplorasi.

Lalu, kedua, Global Environment Facility (GEF) memberi kontribusi US$6,25 juta untuk mendukung bantuan teknis yang bertujuan untuk meningkatkan kapasitas terkait eksplorasi tenaga panas bumi, termasuk proses pelaksanaan kebijakan perlindungan (safeguards due diligence). 

"Kementerian Keuangan dan PT Sarana Multi Infrastruktur, sebuah BUMN pendanaan infrastruktur, akan mendanai proyek ini dengan jumlah yang sama dengan pendanaan dari CTF," jelas keterangan tersebut.
 
Perlu diketahui, tenaga panas bumi adalah sumber energi terbarukan terbesar kedua di Indonesia setelah tenaga air, dan menjadi alternatif sumber energi yang bersih dibandingkan pembangkit listrik tenaga batu bara. Sekitar 30 juta penduduk Indonesia, atau 12 persen dari total populasi belum memiliki akses listrik yang modern dan handal.
 
Kepala Perwakilan Bank Dunia di Indonesia Rodrigo Chaves mengatakan, terbatasnya listrik di Indonesia telah menghambat potensi pertumbuhan ekonomi dan membatasi peluang masa depan bagi jutaan penduduk. Hibah ini diharapkan membantu mengembangkan potensi panas bumi di Indonesia yang sangat besar.

Untuk itu, Bank Dunia mendukung seluruh upaya pemerintah Indonesia untuk mencapai akses listrik 100 persen bagi masyarakat yang modern dan handal secepat mungkin.

Proyek Pengembangan Hulu Tenaga Panas Bumi juga akan mendukung upaya Indonesia untuk beralih ke energi yang lebih ramah lingkungan, dan mencapai sasaran Indonesia di 2025, yaitu porsi energi baru dan terbarukan dalam bauran energi primer naik menjadi 23 persen.
 
Sasaran lain dari proyek ini adalah memperluas akses energi yang lebih merata ke seluruh pelosok Indonesia. “Proyek ini memberi penekanan khusus untuk kawasan timur Indonesia, yang memiliki persentase keluarga tanpa listrik modern dan handal yang jauh lebih tinggi,” kata Senior Energy Specialist Bank Dunia, Peter Johansen. (asp)