RI Dipandang Belum Mampu Beli Saham Aramco

Presiden Joko Widodo dan Raja Arab Saudi, Salman dan rombongan di Istana Bogor.
Sumber :
  • ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari

VIVA.co.id – Lembaga Center of Reform on Economic  menilai Indonesia belum menjadi negara potensial untuk dapat membeli saham perusahaan energi Arab Saudi, yaitu Saudi Arabian Oil Co (Saudi Aramco) pada penawaran saham perdana (initial public offering) sebesar lima persen. 

IPO itu ditargetkan dapat dana sekitar US$100 miliar dengan estimasi nilai saham Saudi Aramco mencapai US$ 2 triliun. Isu ini mengemuka di tengah kunjungan Raja Arab Saudi, Salam bin Abdulaziz al-Saud, ke Indonesia selama 1-9 Maret 2017.

Peneliti CORE, Mohammad Faisal, mengatakan negara potensial di Asia yang dapat membeli saham Aramco tersebut adalah negara yang memiliki kekuatan finansial seperti Jepang dan China. 

Seperti diketahui, pada sebulan ini Raja Arab Saudi, Salman bin Abdulazis Al Saud mengunjungi Malaysia, Indonesia, Jepang dan China. Kunjungan ini cukup penting karena akan mempererat hubungan ekonomi antara Arab Saudi dengan Asia. Salah satu misinya adalah mempromosikan peluang investasi termasuk di dalamnya rencana IPO Saudi Aramco. 

"Fokus utama dari penawaran saham Saudi Aramco lebih ke China dan Jepang, kemudian Malaysia. Tidak ke Indonesia. Kalau di Indonesia sendiri lebih memungkinkan kerja sama pembangunan kilang minyak dengan Pertamina di dalam negeri," kata Faisal kepada VIVA.co.id pada Rabu, 1 Maret 2017.

Kendati Arab Saudi melakukan IPO dan di tawarkan ke beberapa negara Asia, bukan berarti Arab Saudi mengalami kejatuhan ekonomi. Melainkan, untuk melakukan penyegaran atau perbaikan pendapatan negara (revenue), karena selama ini hanya tergantung pada pertumbuhan proyek terkait minyak bumi. 

Cari Investasi

Dia pun sebutkan beberapa cara yang tengah dilakukan Pemerintahan Arab Saudi untuk perbaikan pertumbuhan ekonomi. Selain IPO, Pemerintah Arab Saudi juga mencari investasi di luar negeri untuk membangun berbagai sektor profitable. Ekonomi Arab Saudi selama ini bergantung dengan Anggaran Pendapatan dan belanja Negara (APBN). 

"Di sisi lain, Pemerintah Arab Saudi akan mulai lebih konsentrasi melakukan penanaman investasi di luar negeri untuk sektor-sektor yang profitable, yang tidak terdapat di Arab Saudi," lanjut Faisal. 

Potensi besar pun berada di Asia tak terkecuali untuk masuk di Indonesia. Menurutnya, Pemerintah Arab Saudi sekarang ini sudah menangkap kecenderungan pergerakan perekonomian dunia, yang mengalami perubahan tren, dari sebelumnya negara barat sebagai poros pertumbuhan dunia. Kini tren pertumbuhan ekonomi di dunia beralih ke wilayah Asia. (ren)

"Kemudian dari sisi pajak. Yang tadinya enggak dipajaki, sekarang menjadi dipajaki. Sebelumnya, pajak mereka masih 10 persen dari APBN. Sekarang sudah banyak dipajaki," kata Faisal. (ren)