Ada Calon Pimpinan OJK Titikkan Air Mata, Ini Ceritanya

Seleksi Dewan Komisioner OJK
Sumber :
  • VIVA.co.id/Chandra G Asmara

VIVA.co.id – Panitia Seleksi calon Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan periode 2017-2022 resmi menyerahkan 21 nama dari 30 calon Anggota DK OJK yang dinyatakan lulus dalam seleksi akhir yang mencakup afirmasi dan wawancara kepada Presiden Joko Widodo. 

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati yang juga Ketua Pansel DK OJK periode 2017-2022 membeberkan ragam cerita yang dialami tim Pansel, sejak pertengahan Januari 2017 lalu memulai proses seleksi anggota DK OJK periode selanjutnya.

Salah satunya, adalah reaksi dari beberapa calon DK OJK yang mengikuti tahap seleksi akhir. Ani, sapaan akrab Sri Mulyani mengaku, ada beberapa kandidat yang menitikkan air mata ketika berhadapan dengan sembilan anggota Pansel dalam sesi seleksi afirmasi dan wawancara.

“Ada satu atau dua yang kami wawancara keluar air mata, keringat dingin. Ini karena seluruh Pansel sangat concern untuk mencari kandidat terbaik,” kata Ani, dalam konferensi pers, Jakarta, Senin 13 Maret 2017.

Dalam kesempatan yang sama, Gubernur Bank Indonesia Agus Martowardojo mengakui, kesulitan tim Pansel dalam menentukan para calon petinggi OJK. Agus mengakui, seleksi dari Pansel betul-betul menguras waktu, pikiran, dan tenaga.

“Kalau tidak, tidak mungkin sampai 4.30  kemarin. Kemarin tiga hari berturut-turut dari pagi jam sembilan, sampai jam 23.00,” katanya.

Agus menegaskan, sama sekali tidak ada perbedaan pendapat antara sembilan anggota Pansel dalam proses seleksi. 21 nama calon yang terpilih dan diserahkan kepada Presiden Joko Widodo, diputuskan secara aklamasi, dan tidak ada kejanggalan di pikiran para Pansel.

“Tidak ada disenting opinion. 21 nama itu masing-masing kategori berdasarkan scoring-nya. Kalau di atas, scoring-nya lebih tinggi,” katanya.

Akademisi dari Universitas Gadjah Mada Tony Prasetiantono yang juga menjadi anggota DK OJK mengaku mengenal dengan baik secara personal, sejumlah calon DK OJK. Namun, Tony menegaskan, bahwa proses seleksi tidak ada yang sempurna.

Mostly, saya kenal. Ini bisa positif karena saya paham, tapi bisa juga negatif kalau kami harus coret. Saya beruntung kandidat ini tidak komplain atau hubungi saya. Jadi saya tidak kikuk,” katanya.