Lahan Kembali Hambat Proyek Tol Kunciran-Bandara Soetta

Pengerjaan Proyek Jalan Tol Cinere-Jagorawi (Cijago) di Depok, Jawa Barat
Sumber :
  • ANTARAFOTO/Yulius Satria Wijaya

VIVA.co.id – Ketua Institute Transportasi Indonesia, Darmanintyas meminta pemerintah dan para pemangku kepentingan pembangunan jalan tol Kunciran-Cengkareng (Bandara Soetta) untuk percepat akselerasi proyek.

Sebab, keberadaan jalan tol tersebut tak hanya menunjang aksesibilitas ekonomi dan sosial masyarakat, namun juga berdampak ekonomi nasional.

“Kami memang tidak memiliki riset khusus yang menyangkut load traffic dari wilayah Tangerang dan sekitarnya menuju Cengkareng, terutama Bandara, setiap harinya. Tetapi, dari pemantauan memang kondisi lalu-lintasnya macet,” jelas Darmaningtyas dalam keterangannya, Senin 3 April 2017.

Menurut dia, ada beberapa dampak baik secara ekonomis, ekologis, maupun sosial yang ditimbulkan oleh kondisi lalu-lintas seperti itu. Yaitu secara ekonomis, kondisi kemacetan ini akan menyebabkan terjadinya pemborosan biaya untuk mengakses tempat tujuan.

Lalu, biaya bahan bakar minyak (BBM) dan waktu yang terbuang percuma di jalan sebabkan tingkat produktivitas masyarakat rendah. Sementara itu, di Tangerang dan sekitarnya, banyak industri yang produksinya diangkut menuju ke bandara maupun pelabuhan Tanjung Priok.

“Jalan Tol Bandara-Batuceper-Kunciran juga menjadi lintasan alternatif menuju ke Bandara Soekarno Hatta maupun pelabuhan Tanjung Priok,” kata Darmaningtyas, yang juga menjabat Ketua Bidang Advokasi Masyarakat Transportasi Indonesia itu.

Saat ini, perkembangan proyek pembangunan jalan tol tersebut menghadapi masalah dengan pembebasan lahan. PT Jasa Marga Tbk, selaku pelaksana proyek masih terhambat pengadaan lahan di ruas Kunciran-Cengkareng seksi IV Jurumudi-Benda yang baru mencapai 59,14 persen.

Sedangkan untuk total progres pembebasan lahan tol Kunciran-Bandara Soetta telah mencapai 27 persen, sehingga diharapkan pemerintah dan pihak terkait harus saling membantu, bukan malah saling menghambat.

Sementara itu, Wakil Ketua Komisi V DPR-RI, Muhidin Mohamad Said mengatakan, akan mencari penyebab tol Kunciran-Bandara belum juga dimulai bangun konstruksinya. Padahal, Perjanjian Pengusahaan Jalan Tol terjadi awal 2009, dengan Tim Pembebasan Tanah pertama dibentuk pada 2010.

"Kami sudah memberikan sejumlah kemudahan untuk mempercepat pembangunan jalan tol, sehingga kalau sampai terhambat harus dicari tau penyebabnya," kata Muhidin.

Muhidin mengatakan, kalau pun ada satu seksi dianggap mayoritas pembebasan tanahnya sudah selesai, harus dipastikan titik lokasi lainnya yang belum bebas untuk memastikan pembangunan dapat terus berjalan.

Menurut dia, jangan sampai nantinya alat berat sudah masuk ke lokasi, serta pembangunan dimulai kemudian harus berhenti di tengah jalan, karena ada beberapa titik yang tanahnya masih ada permasalahan.

Perlu diketahui, jalan tol ini terbagi ke dalam empat seksi, yakni Seksi I Kunciran-Pakojan-Cipete. Seksi II Cipete-Poris-Plawad Indah-Buaran Indah-Tanah Tinggi, seksi III Tanah Tinggi-Batusari-Batujaya-Belindung-Pajang-Jurumudi, dan seksi IV Jurumudi-Benda.

Jalan yang akan melintasi 12 kelurahan di lima Kecamatan di Kota Tangerang ini membutuhkan sebanyak 2.497 bidang tanah, dengan luas total lahan yakni 1.226 meter persegi. (asp)