Menakar Dampak Pelonggaran Kebijakan BI Terhadap Ekonomi RI

Suku bunga bank
Sumber :
  • Dokumentasi Rumahku.com

VIVA.co.id – Bank Indonesia memutuskan untuk memangkas suku bunga acuan sebesar 25 basis poin, menjadi berada di level 4,5 persen. Keputusan tersebut sejalan dengan laju inflasi inti yang relatif rendah, defisit transaksi berjalan terjaga, serta risiko kenaikan suku bunga bank sentral Amerika Serikat mereda.

Selain itu, pelanggaran kebijakan moneter bank sentral pun diharapkan memberikan stimulus, dalam mempercepat penurunan suku bunga kredit. Apalagi dengan penurunan instrumen moneter lainnya yang dilakukan bulan ini, BI pun mengakui secara tidak langsung telah 'memaksa' perbankan menurunkan suku bunga.

Ekonom PT Bank Pertama Josua Pardede saat berbincang dengan VIVA.co.id memandang, transmisi kebijakan bank sentral melalui jalur suku bunga akan tetap dipengaruhi seberapa cepat penyesuaian dari perbankan. Menurut Josua, kebijakan BI tidak begitu saja dipukul rata terhadap kondisi masing-masing bank.

"Karena kondisi likuiditas dan kondisi risiko kredit masing-masing bank mungkin berbeda," kata Josua, Jakarta, Rabu 23 Agustus 2017.

Josua menilai, konsolidasi di sektor riil masih akan terus berlangsung. Ekspansi kredit pun diperkirakan baru akan terakselerasi pada kuartal keempat tahun ini, lantaran permintaan kredit korporasi masih akan dipengaruhi oleh seberapa besar pemulihan konsumsi masyarakat.

"Menurut saya, suku bunga kredit rata-rata tertimbang masih double digit, dengan suku bunga kredit konsumsi yang masih paling tinggi," katanya.

Meskipun sejauh ini tingkat daya beli masyarakat masih relatif stabil, namun Josua menilai, bauran kebijakan BI perlu diselaraskan dari stimulus fiskal yang diberikan pemerintah. Hal ini  untuk meningkatkan pendapatan riil masyarakat dalam rangka menggeliatkan aktivitas ekonomi.

"Masyarakat yang dikategorikan penduduk miskin, daya belinya sedikit menurun. Sehingga perlu ada stimulus dari sisi fiskal yg dapat meningkatkan pendapatan riil," ujarnya.

Sementara itu, Ekonom Bank DBS Gundy Cahyadi melalui pesan singkatnya pun tak memungkiri, keputusan bank sentral menurunkan suku bunga acuan saat ini telah mempertimbangkan kondisi dan tantangan ekonomi global tahun depan. Sebab, ada sejumlah tantangan yang harus dihadapi ke depan.

"Sehingga kami kira, BI akan tetap mempertahankan level 4,5 persen hingga akhir tahun," katanya.