Saya Ingin Bermanfaat untuk Orang Lain
- VIVA.co.id/Muhamad Solihin
Dan, Anda sudah membuktikan?
Di Gontor, antre kamar mandi itu panjang sekali. Di sana ada speaker yang nyiarin BBC, VOA, dan terdengar sampai kamar mandi. Pernah saat di kamar mandi dengerin siaran VOA. Saya kepikiran bisa enggak suatu saat kerja di sana. Dan, mimpi saya kesampaian, bisa kerja di VOA, Amerika Serikat. Yang mau saya sampaikan, impian kecil itu bisa terjadi, impian besar bisa terjadi.
Bagaimana dengan novel Ranah 3 Warna?
Ranah 3 Warna itu mengisahkan pas sudah kuliah. Riset lagi. Beda lagi Rantau 1 Muara, itu saat sudah kerja jadi wartawan. Masih ingat saya waktu itu datang ke Tempo bertemu mas Zulkifli. Saya izin mau duduk di ruang redaksi lagi untuk dapat feel, saat jadi wartawan. Saya ikut rapat redaksi, dengerin aja dan saya catat.
Jadi Trilogi Negeri 5 Menara pengalaman Anda pribadi atau campur fiksi?
Kalau saya ibaratkan bangunan, kerangka bangunannya adalah pengalaman saya asli. Tapi di sana kan ada jendela, pintu dan yang lain, nah itu pengembangannya. Intinya itu. Struktur utama dari satu titik ke titik lain itu pengalaman saya.
Sebelum Negeri 5 Menara apakah sudah pernah menulis novel?
Kalau novel belum pernah. Tapi dulu pernah bikin cerpen tapi nggak naik. Kalau bentuk tulisan yang lain itu buku catatan harian dan berita.
Bagaimana dengan proses kreatif Novel Anak Rantau?
Akhirnya, saya percaya menulis itu harus punya why dan nawaitu yang kuat. Negeri 5 Menara itu sangat kuat, karena ingin memberikan sesuatu yang enggak banyak yang tahu. Menulis itu paling lancar versi saya, kalau kita pernah berada di situasi itu. Risetnya cuma nambahin dikit aja karena kita pernah ada di sana.
Nah, di Anak Rantau itu pure fiksi. Saya enggak pernah mengalami langsung si tokoh Hepi. Kedekatan ceritanya ada, tetapi enggak sedekat Negeri 5 Menara. Dan, yang berbeda lagi ini bukan orang pertama naratornya.
Maksudnya?
Buat saya, Anak Rantau ini sesuatu yang baru buat saya dari segi cara penulisan. Tema yang tidak saya alami langsung, jadi butuh riset. Dan, ini diawali karena kegelisahan melihat situasi sosial sekarang. Kalau Negeri 5 Menara itu seperti perayaan tentang sesuatu yang saya alami. Kalau Anak Rantau ini semacam otokritik.