Resmi Jadi Sub Holding Gas, PGN Akuisisi Pertagas Rp20 Triliun

PGN resmi akuisisi Pertagas.
Sumber :
  • Dok. Kementerian BUMN

VIVA – PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN) terus mewujudkan komitmennya menyelesaikan proses integrasi bisnis gas dengan PT Pertamina Gas atau Pertagas. Hal ini merupakan satu rangkaian dari proses pembentukan holding BUMN Migas yang resmi berdiri pada 11 April 2018 lalu. 

Direktur Utama PGN, Gigih Prakoso mengatakan, pada Jumat ini proses integrasi bisnis gas mencapai babak baru dengan ditandatanganinya Perjanjian Jual Beli atau Sales Purchase Agreement (SPA) Saham Pertagas antara Pertamina dan PGN. 

“Hari ini PGN mencatat sejarah baru. Kami resmi menjadi sub holding Gas karena proses integrasi bisnis gas Pertagas dan seluruh anak usahanya telah selesai," kata Gigih dalam keterangannya, Jumat 28 Desember 2018. 

Penandatanganan ini disaksikan oleh Deputi Pertambangan, Industri Strategis, dan Media Kementerian BUMN Fajar Harry Sampurno. Para pihak telah melakukan proses penilaian atau valuasi kembali atas proses integrasi bisnis gas Pertagas. 

Proses penilaian kembali ini diperlukan karena PGN dan Pertamina memutuskan untuk mengikutsertakan empat anak usaha Pertagas. Di antaranya, yakni PT Perta Arun Gas, PT Perta Daya Gas, PT Perta-Samtan Gas, dan PT Perta Kalimantan Gas dalam proses pengambilalihan saham Pertamina di Pertagas oleh PGN. 

Sebelumnya, pada saat penandatanganan Perjanjian Jual Beli Saham Bersyarat (CSPA) yang dilakukan pada 29 Juni 2018 lalu, PGN direncanakan hanya mengintegrasikan bisnis gas Pertagas dan anak usahanya, PT Pertagas Niaga saja. 

Menurut Gigih, para pihak telah melakukan sejumlah proses di antaranya due diligence, valuasi, dan audit untuk laporan keuangan Pertagas dan seluruh anak perusahaannya. 

"Alhamdulillah beberapa tahapan tersebut sudah selesai dan telah mendapatkan persetujuan dari internal PGN dan Pertamina," kata Gigih. 

Sebagai konsekuensi atas hasil penilaian kembali tersebut, Gigih mengatakan harga atau nilai pengambilalihan saham Pertagas dan seluruh anak perusahaannya mengalami perubahan. 

Gigih menyampaikan, harga pembelian yang semula sebesar Rp16,6 triliun untuk 2.591.099 lembar saham dari Pertagas atau setara 51 persen atas Pertagas dan Pertagas Niaga meningkat. 

Nilainya menjadi Rp20,18 triliun untuk 2.591.099 lembar saham dari Pertagas yang merupakan 51 persen dari seluruh saham di Pertagas termasuk kepemilikan di seluruh anak perusahaannya. 

Terkait skema pembayaran pengambilalihan saham tersebut, menurut Gigih, PGN akan melakukannya dalam dua tahap. Tahap pertama sebesar 50 persen dari total harga pembelian atau ekuivalen dengan Rp10 triliun akan menggunakan skema pembayaran tunai.

"Adapun untuk tahap kedua, perusahaan akan menerbitkan Promissory Note sebesar 50 persen dari total harga pembelian," ujar Gigih.  

Direktur Utama PT Pertamina Gas, Wiko Migantoro menambahkan, dengan tuntasnya proses sinergi PGN dan Pertagas ini, proses holding BUMN Migas ini diharapkan dapat mencapai tahapan yang penting. Sehingga, sejumlah tujuan sebagaimana telah diamanatkan pemerintah dapat terwujud. 

"Harapan kami, holding BUMN Migas ini dapat menciptakan kedaulatan dan ketahanan energi yang pastinya membawa manfaat untuk masyarakat dan negara," kata Wiko.
 
Setelah proses integrasi ini selesai, Pertamina sebagai holding BUMN Migas mengarahkan PGN selaku sub holding Gas untuk mengelola bisnis gas secara terintegrasi di Indonesia. 

"Pertagas akan diintegrasikan sebagai anak usaha PGN, dalam kerangka holding Migas sebagaimana ditetapkan dalam PP 06 Tahun 2018," ujar Wiko.  

Lebih lanjut Gigih mengatakan, PGN bersama dengan Pertagas sebagai pengelola utama kegiatan hilir gas bumi akan semakin kuat. “PGN bersama dengan Pertagas siap untuk menjadi tools strategis negara dalam mewujudkan visi pemerintah dalam mendorong gas bumi sebagai engine of growth,” ujar Gigih. 

Melalui integrasi ini, holding BUMN Migas pun diharapkan menghasilkan sejumlah manfaat, di antaranya menciptakan efisiensi dalam rantai bisnis gas bumi sehingga tercipta harga gas yang lebih kompetitif kepada konsumen. 

Selain itu, meningkatkan kapasitas dan volume pengelolaan gas bumi nasional, dan meningkatkan kinerja keuangan holding BUMN Migas. (lis)