Mengintip Shelter TKI di KBRI Kuala Lumpur

Para TKI di shelter KBRI Kuala Lumpur, Malaysia, Senin, 2 April 2018.
Sumber :
  • VIVA.co.id/ Rintan Puspitasari

VIVA – Tak banyak yang tahu, seperti apa kehidupan para Tenaga Kerja Indonesia atau TKI usai menghadapi berbagai masalah di Malaysia. Ternyata, mereka ditampung di sebuah tempat yang disebut shelter di kantor Kedutaan Besar Republik Indonesia atau KBRI Kuala Lumpur, Malaysia. 

Di sana, tampak Setiap kamar berjajar rapi dengan lantai keramik. Sebuah kamar yang cukup lapang dan bersih bisa menampung sekitar 10 hingga 20 orang. Sementara itu, di bagian luar terlihat rapi dan bersih dengan tegel berwarna oranye. 

Para TKI bermasalah, baik karena gaji yang belum dibayar maupun kekerasan ada di sana untuk mendapat perlindungan. Mereka menunggu waktu untuk kembali pulang ke Indonesia. 

Di salah satu sudut, terlihat sebuah area dapur dan tempat cuci yang cukup luas. Dapur itu biasa digunakan para TKI untuk belajar memasak, serta membuat stok makanan yang bisa dijual di kantin "Saya Mau Sukses" yang baru diresmikan Maret 2018. 

"(Tempat penampungannya) nyaman," kata Juliana, 42 tahun, TKI asal Siantar, Medan, saat ditemui VIVA di kantin Saya Mau Sukses, Kuala Lumpur, Malaysia, Senin 2 April 2018. 

Juliana yang baru tinggal di shelter selama tiga minggu ini mengaku belum digaji dari tempatnya bekerja, sebagai cleaning service selama delapan bulan. 

Sementara itu, TKI lain yang berasal dari NTT, Merti, mengalami nasib serupa. Lebih dari dua tahun dia yang bekerja sebagai PRT, tidak digaji oleh majikannya. Kini, dia tinggal di shelter dengan teman kamar sebanyak 14 orang. "Satu kamar 14 orang, tempatnya nyaman," kata Merti yang baru berusia 18 tahun, saat ditemui di kantin. 

Hari ini, rombongan Komisi IX DPR RI yang diketuai Dede Yusuf meninjau shelter dan ruang pelayanan baru untuk pengurusn visa dan paspor di KBRI.

Duta Besar RI untuk Malaysia, Rusdi Kirana yang mendampingi kunjungan rombongan, mengatakan para TKI bermasalah tersebut, memang ditampung dan diberi pelatihan untuk mengisi waktu kosong. 

"Kami dibantu Dharma Wanita, untuk melakukan pelatihan. Karena, kalau di shelter mereka tidak ada pekerjaan, hanya menunggu dokumen selesai untuk kembali. Ini supaya batin dan lahir punya kegiatan selama tinggal di shelter. Kedua, kalau mereka jual (makanan) 80 persen hasil penjualan jadi hak mereka," kata Rusdi dalam sambutannya di KBRI Kuala Lumpur. 

Rusdi menyampaikan, rata-rata 80 hingga 100 persen TKI yang tinggal di shelter adalah TKI bermasalah, baik dari gaji, kekerasan, penyiksaan, hingga belum siap mental, sehingga dalam waktu singkat memilih kabur dari majikannya. 

Di shelter ini, para TKI tersebut diberi pelatihan memasak, spa, hingga menjahit. Sedangkan kantin Saya Mau Sukses, yang terletak di ruangan pelayanan sisi kiri KBRI Kuala Lumpur tersebut, dibuka untuk melayani para TKI yang datang ke kedutaan untuk mengurus dokumen seperti paspor, Surat Perjalanan Laksana Paspor (SPLP) dan lainnya. (asp)