4 Bulan, Lebih dari 1000 Orang Tewas di Suriah, 300 Anak-anak

Ilustrasi pengungsi Suriah.
Sumber :
  • U-Report

VIVA – Persatuan Bangsa-bangsa (PBB) menyebutkan data yang cukup mengejutkan. Sebanyak 1.084 orang meninggal di Suriah dalam kurun 4 bulan belakangan. Ini artinya, setiap hari ada sekitar 9 manusia tewas sia-sia di Suriah.

Hal ini diungkap oleh Komisaris Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia, Michelle Bachelet dalam laporannya di Jenewa, kemarin. Dikutip dari Al Jazeera, Kamis, 5 September 2019, angka kematian itu meliputi data empat bulan, sejak 29 April sampai 29 Agustus 2019.

Yang sangat mencekam, dari laporan tersebut, ada juga ratusan korban anak-anak. Bahkan dari 1.084 korban meninggal, sekitar 304 adalah anak-anak.

"Hampir semua korban, sebanyak 1.031 orang meninggal karena senjata yang diarahkan dari pasukan pemerintah, termasuk senjata para sekutu di provinsi Idlib dan Hama. Sedangkan 58 orang lainnya tewas karena pihak di luar itu," ujar Bachelet.
 
Bachelet dan kantor HAM PBB menegaskan lebih lanjut terkait temuan ini. Laporan tersebut meyakinin jika mayoritas mereka yang tewas adalah akibat dari serangan udara dan pertempuran darat yang dilayangkan oleh Presiden Suriah, Bashar al-Assad, serta para sekutu.

Inilah kemudian yang menjadi penyebab Presiden Turki, Tayyip Erdogan memaksa PBB untuk memperbolehkan negaranya memiliki senjata nuklir. Selama ini, Turki memang belum diperbolehkan untuk memiliki nuklir.

"Sebagian negara di dunia telah memiliki misil nuklir. Mereka tak hanya punya satu atau dua, tapi lebih. Namun kami tetap tidak diperbolehkan memiliki nuklir. Ini yang tidak bisa kami terima," ujar Erdogan.

Erdogan mengisyaratkan bahwa ia menginginkan perlindungan yang sama untuk Turki, seperti yang diberikan ke Israel.

"Kami memiliki jarak negara yang dekat dengan Israel, hampir bertetangga. Mereka menakut-nakuti (bangsa lain) dengan memiliki hal itu. Tidak ada yang bisa menyentuh mereka," kata Erdogan.

Diketahui, analis asing mengatakan Israel memiliki persenjataan nuklir yang cukup besar. Israel mempertahankan kebijakan ambiguitas seputar masalah nuklir, dengan menolak untuk mengkonfirmasi atau menyangkal kemampuan mereka terkait nuklir.