Halo
Pembaca

Berita

Bola

Sport

Otomotif

Digital

Showbiz

Gaya Hidup

in-depth

Lintas

Blog

Informasi

Jumat, 29 Mei 2020 | 16:59 WIB

Muncul Petisi Totak Tutup Koleksi Indonesia di Perpusnas Australia

Foto :
  • abc
Perpustakaan Nasional Australia di Canberra memiliki salah satu koleksi terbesar mengenai Indonesia di dunia.

Sebuah petisi online sekarang sedang beredar yang ditujukan kepada Perpustakaan Nasional (Perpusnas) Australia (NLA) soal rencana penutupan koleksi dari sejumlah negara Asia.

Petisi ini ditujukan kepada Direktur Jenderal NLA di Canberra, ibu kota Australia, Dr Marie-Louise Ayres agar usulan penutupan koleksi Jepang dan Korea serta pengurangan dana untuk koleksi Indonesia dan Mandarin dibatalkan.

Baca Juga

Permintaan lain dari petisi tersebut adalah agar membatalkan penutupan "Asian Reading Room" di perpustakaan terbesar di Australia tersebut.

Sejak diluncurkan beberapa hari lalu, petisi ini sampai hari Jumat (29/5/2020) sudah mendapatkan lebih dari 1.300 tanda tangan dari target paling kurang 2.000 tanda tangan petisi.

Menurut petisi tersebut disebutkan "National Library of Australia" memiliki kekuatan sebagai sumber-sumber terkait studi Asia, yang sudah lama menjadi tujuan bagi para akademisi dan peneliti.

"NLA telah menempatkan Australia dalam peta secara internasional sebagai pusat utama studi Asia," kata petisi tersebut.

"Karena pengurangan dana, dalam beberapa tahun terakhir kebanyakan perpustakaan di universitas di seluruh Australia tidak lagi mengumpulkan bahan dalam bahasa Asia, karena merasa NLA masih akan menjadi pusat pengumpulan bahan-bahan tersebut."

"Bila ini tidak dilakukan lagi, studi soal Asia dan peran penting yang dimiliki Australia untuk menjadi jembatan negara-negara Timur dan Barat tidak akan ada lagi," demikian pernyataan petisi tersebut.

Tieke Atikah sekarang akan pensiun dari NLA setelah pernah bekerja selama 30 tahun menangani Koleksi Indonesia di perpustakaan tersebut.

Foto: Supplied

Pemotongan dana untuk koleksi dari Indonesia dan China

Rencananya NLA tidak akan lagi terus melengkapi koleksinya yang berbahasa Jepang dan Korea, namun masih akan tetap mengkosentrasikan diri pada bahasa Indonesia, Mandarin dan Timor Leste.

Namun terkait koleksi-koleksi dalam bahasa Indonesia, yang diputuskan oleh NLA adalah tidak lagi mempekerjakan seorang tenaga ahli perpustakaan khusus mengenai Indonesia di Canberra.

Jabatan tersebut sebelumnya dipegang oleh Tieke Atikah, asal Indonesia, yang sudah lebih dari 30 tahun bekerja.

Tieke akan pensiun pada bulan Juni 2020, namun selama setahun terakhir sudah tidak aktif lagi karena sedang cuti panjang, sebagai bagian dari haknya setelah bekerja puluhan tahun.

Dalam percakapan dengan wartawan ABC Indonesia, Sastra Wijaya hari Jumat (29/5/2020), Tieke Atikah mengatakan secara umum kecewa dengan rencana yang akan dilakukan NLA.

Lihat artikel asli
Topik Terkait
Saksikan Juga
LENGKAP! Jokowi Minta Perluasan Tes Massal Covid-19
BERITA - 4 bulan lalu
Terpopuler