Boikot hingga Kecaman untuk Film Mulan karena Isu Uighur dan Hong Kong

BBC Indonesia
Sumber :
  • bbc

 

BBC/Human Rights Watch
Diperkirakan satu juta orang telah ditahan di kamp-kamp di Xinjiang, Cina

 

Disney mendapat kecaman karena menggelar syuting film "Mulan" di beberapa wilayah China yang diduga lokasi kasus pelanggaran hak asasi manusia serius.

Kritik juga merujuk ucapan terima kasih tertulis di penghujung film baru itu kepada badan keamanan pemerintah di Provinsi Xinjiang. Di wilayah itu diperkirakan satu juta orang ditahan. Mayoritas dari mereka diyakini merupakan Muslim Uighur.

Selain itu, film "Mulan" juga diboikot karena pemeran utamanya mendukung tindakan keras pemerintah China terhadap para pengunjuk rasa di Hong Kong.

Hingga berita ini disusun, Disney belum mengomentari berbagai kecaman tersebut.

 

 

China mengklaim kamp penahanan di Xinjiang mereka perlukan untuk meningkatkan keamanan domestik.

"Mulan" yang bergenre laga merupakan salah satu film terbesar yang dirilis tahun 2020 di tengah pandemi virus corona. Ini merupakan film yang dibuat ulang dari film animasi tahun 1998.

Kisah "Mulan" berfokus pada seorang gadis muda yang menggantikan tugas kemiliteran ayahnya.

Senin (07/09), warganet ramai membicarakan kredit film yang memuat ucapan terima kasih kepada sejumlah entitas pemerintah China di Xinjiang.

Biro keamanan publik di kota Turpan dan Departemen Publisitas Komite Wilayah Otonomi Uyghur BPK Xinjiang termasuk yang disebut dalam kredit itu.

https://twitter.com/jeannette_ng/status/1302767969466974208

Menurut akademisi yang meneliti China, Adrian Zenz, biro keamanan publik di Turpan bertugas menjalankan kamp-kamp "pendidikan ulang". Kamp itu diyakini tempat penahanan orang-orang Uighur.

Adapun "Departemen publisitas" yang disebut oleh Disney, bertanggung jawab untuk memproduksi propaganda negara di wilayah tersebut, kata Zenz.

Diperkirakan ada sekitar satu juta orang Uighur telah ditahan secara paksa di kamp penjara dengan keamanan tinggi dalam beberapa tahun terakhir.

Dokumen dan kesaksian yang dibocorkan para penyintas kamp mengungkap bahwa para narapidana dikurung, diindoktrinasi dan dihukum.

Otoritas China menanggap kesaksian itu sebagai `berita palsu`.

Pada 2018, penelusuran BBC menemukan bukti adanya sebuah kompleks keamanan yang dibangun di sebuah gurun di Xinjiang.

Adrian Zenz menggambarkan Disney sebagai "perusahaan internasional yang mengambil keuntungan di bawah bayang-bayang kamp konsentrasi".

Kongres Uygar Dunia mengunggah cuitan di Twitter, "dalam film Mulan yang baru, Disney berterima kasih kepada biro keamanan publik di Turpan, yang telah terlibat dalam kamp-kamp penawanan di Turkistan Timur."

Aktivis Shawn Zhang juga mengkritik Disney. Dia menulis, "Berapa ribu orang Uighur yang sudah dimasukkan ke dalam kamp oleh Biro Keamanan Publik Turpan ketika film Mulan direkam di sana?"

 

 

Turpan adalah tempat "kamp pendidikan ulang" pertama bagi perempuan Uighur yang berjilbab dan pria berjanggut ditahan, menurut Zenz.

Biro keamanan publik juga disebutnya bertanggung jawab dalam mengelola pembangunan kamp dan mengerahkan polisi untuk mengaturnya.

Zenz berkata, bukti paling awal pekerjaan "pendidikan ulang" orang Uighur di Turpan dilakukan sejak Agustus 2013.

Pada bulan Juni, Zenz mengeluarkan laporan yang mengungkap bukti bahwa China memaksa wanita Uighur menjalani sterilisasi atau dipasangi alat kontrasepsi.

China membantah tuduhan itu. Mereka menyatakan tengah memerangi `tiga kekuatan jahat` di Xinjiang, yaitu separatisme, terorisme, dan ekstremisme.

Otoritas China berkata, kamp-kamp itu adalah sekolah sukarela untuk pelatihan antiekstremisme.

Pada 2017, sutradara Mulan, Niki Caro, mengunggah foto di Instagram dari ibu kota Xinjiang. Tim produksi film itu juga mengatakan kepada majalah Architectural Digest bahwa mereka menghabiskan waktu berbulan-bulan di Xinjiang untuk meneliti lokasi pembuatan film.

Aktivis pro-demokrasi Hong Kong, Joshua Wong, juga mengutuk Disney. Dia mencuitkan pernyataan bahwa orang-orang yang menonton "Mulan" berpotensi ikut terlibat dalam penahanan massal Muslim Uighur.

https://twitter.com/joshuawongcf/status/1302795856786137093?s=20

 

Pernyataan kontroversi Liu Yifei dan seruan boikot

 

 

Disney
Poster film Mulan

 

Para penggemar film di beberapa negara Asia menyerukan boikot setelah aktris kelahiran China, Liu Yifei, menyatakan dukungan untuk kepolisian Hong Kong.

Aparat keamanan Hong Kong selama ini telah dituduh melakukan kekerasan terhadap pengunjuk rasa prodemokrasi dalam beberapa bulan terakhir.

Tahun lalu terjadi protes besar di Hong Kong. Generasi muda memimpin demonstrasi berbulan-bulan menentang Undang-Undang ekstradisi dari Hong Kong ke China.

Protes itu lantas meluas hingga tuntutan demokrasi dan penyelidikan terhadap kebrutalan polisi.

Selama kerusuhan itu, Lieu Yifei, bintang utama Mulan yang berkewarganegaraan Amerika, menulis, "Saya mendukung polisi Hong Kong. Anda semua bisa menyerang saya sekarang. Sungguh memalukan bagi Hong Kong."

 

Getty Images
Liu Yifei mendukung petugas polisi di Hong Kong

 

Tidak butuh waktu lama muncul pagar #BoycottMulan yang menjadi viral dan bahan pembicaraan di Twitter, sebuah media sosial yang dilarang di China. Sebaliknya, warga China menyuarakan dukungan mereka kepada sang aktris.

UU Ekstradisi memang tidak jadi disahkan tapi pada April tahun ini banyak aktivis prodemokrasi Hong Kong ditangkap polisi. Puncak pro dan kontra terjadi Juni lalu ketika China mengesahkan UU Keamanan Baru yang disebut para kritikus sebagai `akhir kebebasan bagi Hong Kong`.

Hingga kini isi UU keamanan baru itu belum diketahui tapi sudah banyak rakyat Hong Kong yang ditahan. Peraturan ini memuat ancaman hukuman penjara seumur hidup.

https://twitter.com/joshuawongcf/status/1301762175334256641

 

#MilkTeaAlliance

 

Ada alasan untuk mencintai Mulan.

Dia adalah pahlawan perempuan yang berjuang untuk kebenaran, meskipun banyak rintangan di jalannya.

Dengan cerita seperti itu, tak heran para pengunjuk rasa di Hong Kong melihatnya sebagai simbol perjuangan mereka. Ketika aktivis Agnes Chow ditangkap bulan lalu, dia digambarkan oleh pendukung sebagai "Mulan sebenarnya".

Sekarang setelah bertahun-tahun pemerintahan militer, giliran Thailand yang menuntut perubahan. Ribuan orang di negara itu turun ke jalan tahun ini, terutama selama sebulan terakhir.

 

 

Gerakan yang dipimpin mahasiswa itu menginginkan dilakukannya amandemen konstitusi dan monarki, pemilihan baru, perdana menteri mengundurkan diri dan stop melecehkan aktivis hak asasi.

Mereka juga anti-China karena cemas pada pengaruh negara itu di Thailand.

Gerakan itu mengarah pada #MilkTeaAlliance, seperti yang disebut para pengunjuk rasa di Hong Kong, Taiwan, dan Thailand. Tagar itu merujuk minuman manis yang digemari masyarakat di tiga negara tersebut.

https://twitter.com/NetiwitC/status/1301467292576878598

Aktivis mahasiswa Thailand, Netiwit Chotiphatphaisal, menyerukan melalui Twitter agar orang untuk tidak menonton Mulan. Tujuannya, kata dia, agar "Disney dan pemerintah China tahu bahwa kekerasan negara terhadap rakyat tidak dapat diterima."