Mengapa Jepang Terobsesi Robot? Di Kuil Ada Pendeta Android Mindar
- bbc
"Pada masa itu, orang tidak berpikir universitas harus melakukan penelitian tentang robot," katanya dalam sebuah wawancara dengan majalah IEEE Spectrum.
"Mereka berpikir bahwa mengerjakan `mainan` itu sembrono."
Jepang telah dipaksa untuk melakukan demiliterisasi selama pendudukan Amerika, dan negara di kawasan pasifik itu secara resmi tidak banyak berusaha menggunakan robot sebagai senjata.
Faktor-faktor ini membantu menanamkan pandangan yang umumnya positif tentang robot di Jepang pascaperang.
Otomasi industri telah memberikan keuntungan ekonomi yang besar, dan robot humanoid adalah keingintahuan yang tidak berbahaya.
Baca juga:
- Apakah Anda mau berhubungan seks dengan robot?
- Apakah robot dapat menggantikan fungsi layanan pelanggan?
Barat, sementara itu, cenderung mengambil pandangan yang kurang optimis.
AS, yang disibukkan dengan Perang Dingin, menggelontorkan dana ke robotika untuk keperluan militer, yang menimbulkan aura mengancam di lapangan.
Dan para pekerja di Barat telah lama menganggap otomatisasi sebagai ancaman yang akan mengambil pekerjaan manusia, sejak Luddites menghancurkan mesin tekstil di Inggris pada akhir abad ke-18 dan awal abad ke-19.
Manga superstar: Astro Boy
Pandangan yang berbeda tentang teknologi ini terungkap dalam budaya pop pada paruh kedua abad ke-20.
Salah satu karakter Jepang yang paling terkenal saat ini adalah Astro Boy, yang diperkenalkan dalam komik manga pada tahun 1952 dan muncul di buku, acara TV, film, dan berbagai macam sovenir seperti boneka dan kartu koleksi.
Astro Boy adalah android yang menggunakan kekuatan supernya untuk kebaikan dan mengumpulkan pesan positif tentang teknologi di negara ini — bahkan jika dia awalnya tidak dimaksudkan seperti itu.
"Menurut [pencipta Astro Boy Osamu] Tezuka, dia telah dipaksa untuk menggambar sebuah pandangan teknologi yang sangat optimis ... oleh perusahaan penerbitan dan pembacanya.
"Untuk memberi harapan kepada Jepang, yang pada 1950-an masih menderita kehancuran perang dan kesadaran akan inferioritas teknologi mereka terhadap pemenang perang Barat," tulis Wagner.