Varian Terbaru COVID-19 Deltacron, Apa yang Perlu Diketahui

BBC Indonesia
Sumber :
  • bbc

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengumumkan pada 9 Maret bahwa para ilmuwan telah mengidentifikasi varian baru Covid-19. Varian tersebut secara tidak resmi disebut `Deltacron` karena merupakan kombinasi dari varian Delta dan Omicron.

WHO secara resmi menggolongkannya sebagai varian AY.4/BA.1 dan sejauh ini tidak menganggapnya sebagai "varian yang menjadi perhatian" - yang dapat berdampak signifikan pada kesehatan masyarakat.

Ada sejumlah kasus `Deltacron` di Eropa, AS, dan Amerika Selatan.

Getty Images
Kasus-kasus awal Deltacron dideteksi di Prancis pada Januari 2022.

Namun, para ilmuwan dan pakar kesehatan masih belum yakin tentang aspek penting dari varian baru ini, terutama apakah sangat menular, resisten terhadap vaksin, atau bisa menyebabkan gejala yang parah.

Apa kami ketahui sejauh ini?

Asal dan penyebarannya

Beberapa kasus awal `Deltacron` terdeteksi di Prancis pada Januari 2022, dan telah dikonfirmasi.

Sejak itu, virus ini juga ditemukan di Belgia, Jerman, Denmark, dan Belanda, menurut informasi dari Gisaid, platform online tempat para ilmuwan dari seluruh dunia berbagi informasi genetika tentang virus corona.

Baru-baru ini, kasus `Deltacron` juga telah diamati di Inggris, Amerika Serikat, dan Brasil.

Jumlah kasus yang terkait dengan varian ini masih sangat rendah: per 15 Maret, hanya 47 sampel AY.4/BA.1 yang telah diserahkan ke Gisaid, 36 di antaranya berasal dari Prancis.

Meski perlu dipastikan lebih lanjut, fakta bahwa jumlah kasus `Deltacron` tidak berkembang secara eksponensial dari Januari hingga Maret dapat ditafsirkan sebagai tanda awal bahwa galur ini tidak lebih menular daripada Delta dan Omicron.

Getty Images
Varian Covid-19 menggunakan protein lonjakan (merah) untuk terhubung ke reseptor sel kita (biru) dan memulai proses infeksi

Data lain yang menguatkan pandangan itu berasal dari sebuah penelitian yang belum dipublikasikan oleh para peneliti di Helix, perusahaan swasta yang bergerak dalam bidang pengurutan genetika di Amerika Serikat.

Para ilmuwan menganalisis lebih dari 29.000 sampel positif Covid-19 yang dikumpulkan antara November 2021 hingga Februari 2022, periode di mana varian Delta dan Omicron beredar dengan intensitas tinggi di AS.