Ilmuwan Indonesia Kembangkan Tempe Generasi Baru

Ilustrasi Tempe
Sumber :
  • Ilustrasi AI Gemini

Jakarta, VIVA – Tempe yang selama ini dikenal sebagai pangan sehari-hari tengah dikembangkan melalui pendekatan sains dan teknologi. Tim peneliti Universitas Indonesia (UI) mengembangkan ragi tempe generasi baru yang dirancang lebih adaptif terhadap perubahan kondisi lingkungan selama proses fermentasi.

img_title Rahasia di Balik Teknologi Cat Cepat Kering

Inovasi tersebut dikembangkan tim peneliti Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) UI melalui Program Ekosistem Hidup Berbasis Sains dan Teknologi (Bestari Saintek) dengan pendanaan dari Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP). Penelitian menggunakan pendekatan living lab, yakni inovasi diuji dalam kondisi nyata dengan melibatkan masukan dari para perajin tempe.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Salah satu fokus utama penelitian adalah mikroorganisme yang digunakan dalam fermentasi tempe, khususnya kapang dari kelompok Rhizopus. Tim peneliti mengembangkan ragi dengan mengombinasikan beberapa spesies Rhizopusuntuk mendapatkan karakter fermentasi yang lebih sesuai dengan kondisi produksi tempe di lapangan.

img_title Era Bank Digital, Infrastruktur Internet Tak Bisa Lagi Kaku

Pendekatan tersebut penting karena proses fermentasi tempe dipengaruhi kondisi lingkungan. Suhu dan kelembapan yang berubah dapat memengaruhi pertumbuhan kapang sehingga berpotensi menyebabkan proses fermentasi tidak berlangsung optimal.

Prof. Wellyzar Sjamsuridzal, periset Bestari Saintek sekaligus akademisi UI, mengatakan penelitian tersebut bukan hanya bertujuan menghasilkan ragi baru. Riset ini juga menjadi bagian dari upaya memahami sekaligus memanfaatkan biodiversitas mikroba yang dimiliki Indonesia.

img_title Perkembangan Teknologi Dorong Perawatan Aesthetic dan Anti Aging Semakin Personal

“Ragi tempe merupakan bagian penting dari upaya memanfaatkan biodiversitas Indonesia untuk memperkuat ketahanan pangan. Melalui riset dan kolaborasi, keragaman mikroorganisme dapat dikembangkan secara bertanggung jawab menjadi inovasi yang bermanfaat bagi masyarakat,” ujarnya..

UI diketahui memiliki koleksi kapang Rhizopus yang berasal dari berbagai jenis tempe dan wilayah Indonesia. Keragaman tersebut menjadi sumber penting untuk penelitian karena karakter mikroorganisme dapat berkaitan dengan sifat tempe yang dihasilkan, termasuk aroma, tekstur, dan tampilan.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Dalam pengembangan ragi adaptif, tim peneliti tidak hanya melakukan pengujian di laboratorium. Prosesnya juga dilakukan bersama perajin tempe melalui pendekatan co-creation dan co-learning, sehingga formula ragi dapat diuji berdasarkan kondisi produksi yang benar-benar dihadapi pelaku usaha.

Salah satu tantangan yang ingin dijawab adalah perubahan cuaca. Ketidakstabilan suhu dan kelembapan dapat membuat hasil fermentasi tidak konsisten, padahal kondisi tersebut menjadi bagian penting dalam produksi tempe secara tradisional.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut