Bomber di Masjid Syiah Kuwait Merupakan Warga Arab Saudi

Bomber bunuh diri Kuwait, Fahd Suliman Abdul-Muhsen al-Qabaa
Sumber :
  • TELEGRAPH

VIVA.co.id - Pemerintah Kuwait hari ini mengumumkan identitas pelaku bom bunuh diri di Masjid Syiah Imam Al-Sadeq, Kuwait pada Jumat kemarin.

Kementerian Dalam Negeri Kuwait menyebut pelaku bernama Fahd Suliman Abdul-Muhsen al-Qabaa. Dikutip dari Reuters, Minggu, 28 Juni 2015, al-Qabaa tiba di Kuwait di hari yang sama dia melakukan aksi pengeboman.

Dalam sebuah foto yang dipublikasikan oleh Kemdagri Kuwait, al-Qabaa terlihat memiliki jenggot dan mengenakan pakaian tradisional Saudi. Dia diantar menuju ke Masjid itu oleh seorang sopir bernama Abdulrahman Sabah Eidan Saud.

Saud merupakan pria kelahiran tahun 1989 dan menetap di Kuwait sebagai penduduk ilegal. Polisi juga ikut menahan pemilik mobil bernama Jarrah Nimr Mejbil Ghazi dan terlahir tahun 1988. Sama seperti Saud, Ghazi juga tercatat sebagai penduduk ilegal.

Selain kedua orang itu, polisi turut menahan pemilik rumah yang digunakan oleh Saud untuk bersembunyi. Otoritas berwenang menjelaskan pemilik rumah merupakan warga Kuwait dan tergolong orang yang memiliki paham ekstrimis dan menyimpang.

Kelompok militan Islamic State of Iraq and al Sham (ISIS) mengklaim bertanggung jawab terhadap serangan yang menewaskan 27 jamaah Islam Syiah yang tengah menunaikan ibadah salat Jumat. Bagi mereka, pelaku diketahui bernama Abu Suleiman al-Muwahhid. ISIS mengatakan pelaku meletakan bom di dalam jaketnya.

Menurut pejabat berwenang, aksi pengeboman itu sengaja dilakukan untuk memecah penduduk Kuwait yang memiliki paham Sunni dan Syiah. Pemerintah menilai ISIS ingin menghancurkan keharmonisan di antara dua kubu itu di Kuwait.

Menurut data dari Reuters, pemeluk Islam Syiah di Kuwait mencapai 15 hingga 30 persen dari penduduk Kuwait. Di sana, penduduk Syiah dan Sunni hanya sedikit mengalami friksi.

Warga Kuwait terlihat berang terhadap aksi pengeboman itu. Beberapa di antara mereka menyalahkan beberapa warga yang ikut mendanai kelompok itu sehingga bisa masuk ke Kuwait.

"Kemurkaan Allah akan menimpa ISIS dan siapa pun yang mendukung mereka serta mengumpulkan dana yang seharusnya bisa diperuntukkan untuk membantu para pengungsi dan anak yatim," tulis seorang warga Kuwait melalui akun Twitter.

Sementara, warga Kuwait lainnya menulis siapa pun yang mendanai ISIS seharusnya dikenai dakwaan pengkhianatan karena mereka ingin membakar Kuwait. Pada Sabtu kemarin kendati didera cuaca panas, warga tetap berduyun-duyun menghadiri pemakaman 18 korban tewas akibat pengeboman itu.

"Kerumunan ini merupakan sebuah bukti tujun utama dari tindakan kriminal mereka telah gagal," ujar Ketua parlemen, Marzouk al-Ghanem yang dikutip harian Telegraph.

Para pelayat, termasuk wanita dengan pakaian Muslim berwarna hitam, datang ke pemakaman dengan membawa bendera nasional Kuwait serta meneriakan slogan-slogan religi. Sementara sisa jasad lainnya diterbangkan ke Irak dan dikubur pada hari ini di pemakaman Najaf Wadi al-Salam.

"Kami ingin mengirimkan sebuah pesan ke ISIS yang membuat kami kian bersatu di antara saudara kami Sunni dan Syiah. Mereka tak akan mungkin memecah belah kami," ujar seorang warga Kuwait yang tinggal di Irak, Abdulfatah al-Mutawwia yang baru saja kehilangan kakaknya akibat peristiwa pengeboman itu.

Usai kejadian pengeboman itu, polisi bersiaga dan menyebut kejadian tersebut sebagai "teror hitam". 

(mus)