Gadis Berkursi Roda, Duduk Berjam-jam di Perbatasan Eropa

Gadis pengungsi berkursi roda, tak mau meninggalkan perbatasan. Ia berharap diijinkan memasuki Eropa.
Sumber :
  • Reuters/Yani Behrakis

VIVA.co.id – Keputusan Macedonia menutup perbatasan bagi pengungsi menyisakan kisah pilu. Gadis pengungsi berkursi roda ini memilih duduk diam berjam-jam agar diizinkan memasuki perbatasan.

Zhino Hasan, seorang gadis penyandang disabilitas memutuskan diam selama berjam-jam di perbatasan Macedonia. Ia tak mau meninggalkan perbatasan yang telah ditutup oleh pemerintah Macedonia itu. Zhino Hasan berharap pemerintah Macedonia mengizinkan mereka memasuki wilayah tersebut untuk menuju Balkan, dan melanjutkan perjalanan ke German. Ayah Zhino, Sarkawt, membawa anaknya berada persis di pintu perbatasan tersebut, pada Jumat, 26 Januari 2016. Ia berharap, keluarga mereka akan berada di antrean terdepan jika pemerintah Macedonia kembali membuka perbatasan tersebut.

Diberitakan Reuters, Sabtu, 27 Februari 2016, keluarga Hasan adalah kelompok Kurdi Irak. Mereka berangkat dari kota Kirkuk, sebuah kota di Irak bagian timur. Hasan dan keluarganya adalah bagian dari 20.000 pengungsi dan imigran yang terjebak di Yunani, setelah terjadi penutupan di sejumlah perbatasan yang menuju Balkan, rute yang biasa digunakan oleh pengungsi untuk menuju negara-negara Eropa.

"Kami ingin ke Jerman," kata Sarkawt Hasan, 46 tahun. Mereka tiba di pulau Lesbos, Yunani, pada delapan hari yang lalu.  

Zhino Hasan dan keluarganya tak memiliki uang yang cukup. Gadis ini cacat dan tak mampu bicara. Ketika hujan, keluarganya menutupi gadis tersebut dengan plastik. Dengan kain yang menutupi wajahnya, gadis tersebut duduk persis di depan pintu besi yang menjadi batas wilayah. Sawkart telah berusaha mengelilingi perbatasan agar polisi bersedia membuka pintu tersebut untuk mereka. Tapi usahanya sia-sia.

"Saya meminta dengan sangat pada Ban Ki Moon (Sekjen PBB), saya juga meminta pada Uni Eropa untuk membuka perbatasan," katanya. "Anak saya butuh pertolongan. Saya tak tahu harus bagaimana."

Macedonia dan dan beberapa negara Balkan sepakat untuk mengurangi arus migran. "Jumlah mereka yang datang mencapai 580 orang per hari," kata seorang polisi Slovenia, seperti dikutip Reuters.

Yunani marah karena tidak diundang ke pembicaraan di Wina. Negara itu meminta perusahaan feri yang mengangkut penumpang dan agen perjalanan pada hari Jumat, untuk membawa kembali imigran dan pengungsi-pengungsi dari pulau-pulau garis depan daratan Yunani. Sementara Macedonia menegaskan, negara itu kini hanya akan menerima pengungsi dari Irak dan Suriah untuk menyeberangi perbatasan menuju Yunani.