RI Ingin Jadi Anggota Dewan Penerbangan Sipil Internasional

Indroyono Soesilo (tengah), Utusan Khusus Menteri Perhubungan RI untuk ICAO, dalam acara resepsi di Den Haag, Belanda.
Sumber :
  • KBRI Den Haag

VIVA.co.id – Indonesia tengah berupaya menjadi anggota International Civil Aviation Organisation (ICAO). Maka, belakangan ini pemerintah sibuk menggalang dukungan dari mancanegara agar bisa menjadi anggota Organisasi Penerbangan Sipil Internasional itu.  

Dalam rangka mendukung kampanye penggalangan dukungan pencalonan itu, Kedutaan Besar Republik Indonesia Den Haag menyelenggarakan Resepsi Diplomatik dengan mengundang perwakilan negara-negara sahabat dari wilayah Eropa dan Afrika yang ada di Ibu Kota Belanda itu. Berlangsung pada Rabu, 18 Mei 2016, acara ini bertempat di hotel Royal Crown, demikian ungkap KBRI Den Haag.

Resepsi Diplomatik dihadiri oleh perwakilan negara sahabat dan perwakilan dr European Union. Duta Besar negara sahabat yang hadir pada acara resepsi diplomatik tersebut berasal dari Bosnia-Herzegovina, Cameroon, Czech Republic, Egypt, Estonia, Ghana, Slovakia, Sudan dan  Senegal serta sejumlah diplomat senior yang juga hadir mewakili negaranya.  

Duta Besar RI untuk Kerajaan Belanda, I Gusti Agung Wesaka Puja, mengungkapkan Indonesia berkeinginan menjadi anggota Dewan ICAO periode 2016-2019. "Indonesia punya sejumlah potensi yang mendukung pencalonan tersebut, seperti luas wilayah, jumlah penduduk, kebijakan pemerintahan Presiden Jokowi, potensi penerbangan serta potensi pariwisata," kata Dubes Puja.

Di acara yang sama, Dr. Indroyono Soesilo sebagai Utusan Khusus Menteri Perhubungan RI untuk ICAO, memaparkan data dan fakta kenapa Indonesia harus menjadi anggota dewan ICAO. “Indonesia adalah negara kepulauan yang sangat bergantung pada pelayanan transportasi udara untuk menghubungkan lebih dari 17.000 pulau di samping transportasi laut,” kata Indroyono.

Dia juga menambahkan bahwa Indonesia memiliki 237 airport dengan 30 airport melayani penerbangan international. Sistem Navigasi udara Indonesia melayani 45% (4 dari 9 regional area) penerbangan dunia. "Thales system Navigasi penerbangan dari Perancis saat ini terpasang dimana-mana di Indonesia baik itu untuk keperluan penerbangan sipil maupun militer,” lanjut mantan Menteri Koordinator bidang Kemaritiman itu.

Kelebihan Indonesia

Untuk lebih meyakinkan para Dubes tersebut, Indroyono menjelaskan bahwa Indonesia memiliki 1.142 pesawat dari berbagai jenis dan akan menjadi 1.500 dalam 5 tahun ke depan. Perusahaan manufaktur pesawat seperti Boeing, Airbus, Embraier dan Bombardier sangat sibuk untuk melayani kebutuhan pesawat dari maskapai penerbangan Indonesia.

“Jumlah penumpang yang mencapai 90 juta orang setahun dengan pertumbuhan mencapai 14% setahun menjadikan Indonesia negara  nomor 12 tersibuk di dunia dan Bandara Soekarno-Hatta menjadi Bandara ke 10 tersibuk di dunia dengan 62juta penumpang per tahun” ujar Indroyono.

Indonesia pun sangat aktif membantu negara-negara berkembang dengan menawarkan 53 jenis pelatihan dan workshop di bidang penerbangan. Pada tahun 2015 Indonesia juga memberikan kontribusi sebesar €150.000 utk membantu program ICAO dlm rangka peningkatan capacity building negara-negara Afrika.

“Mempertimbangkan fakta dan data tersebut Indonesia selayaknya dapat mengambil peran dalam penetapan kebijakan aviation international dengan menjadi anggota dewan ICAO,” kata Indroyono.  

Dia mengharapkan negara-negara sahabat yang hadir untuk merekomendasikan kepada pemerintah masing-masing untuk mendukung Indonesia dalam pemilihan anggota dewan ICAO yang akan digelar di Montreal, Kanada pada tanggal 28 September - 4 Oktober 2016.

Atase Perhubungan RI di Den Haag, I Made Suartika, mengatakan bahwa Resepsi diplomatik di Den Haag ini adalah yang ketujuh kalinya di selenggarakan sejak Desember 2015 setelah sebelumnya di adakan di Jakarta, Montreal, Washington DC, Riyadh, Singapura dan Kuala Lumpur. Penggalangan dukungan juga dilakukan dengan kampanye pada regional aviation group meeting seperti LACAC (Latin America Civil Aviation Conference) di Mendoza, Argentina, di AFCAC (Africa Civil Aviation Conference) di Mesir, mengunjungi ibukota negara-negara tertentu seperti Kuala Lumpur-Malaysia,  Roma-Italia, dan Brusels-Belgia.

Penggalangan dukungan berikutnya dengan menggelar Pertemuan Tingkat Menteri Transportasi yang akan dilakukan di Bali, 29-31 Mei 2016 dan akan dihadiri 28 Menteri Transportasi dari Asia, Eropa, Amerika Latin dan Afrika. “Video kampanye juga disiapkan untuk ditayangkan pada semua maskapai international yg memiliki penerbangan ke Indonesia serta di tayangkan di international TV seperti CNN, BBC dan FOX,” kata I Made Suartika.

(ren)