AS Ogah Berbagi Intelijen dengan Rusia

Pesawat mata-mata RC-135 Rivet Joint
Sumber :
  • Doc. US Air Force

VIVA.co.id – Kepala Staf Gabungan Angkatan Bersenjata Amerika Serikat, Jenderal Joseph Francis Dunford Jr., menegaskan tidak akan membagi informasi intelijen dengan Rusia menyusul serangan udara mematikan di Suriah.

"Saya tidak percaya itu (pertukaran intelijen dengan Rusia) merupakan ide yang baik," kata Dunford, di depan Komite Angkatan Bersenjata Senat AS, seperti dikutip situs Anadolu Agency, Jumat, 23 September 2016.

Saat ditanya apakah ia berpikir Rusia telah melakukan serangan udara mematikan terhadap konvoi bantuan PBB yang menewaskan 12 orang, Dunford mengaku bisa saja benar demikian.

"Menurut saya mereka (Rusia) yang melakukan," tuturnya.

Ia juga mengklaim dua jet tempur Rusia berada di wilayah jalur konvoi. Menurut Dunford, hal ini harus diungkap ke publik karena serangan fatal ini mengakibatkan banyak jatuh korban jiwa yang tak bersalah.

"Saya katakan bahwa ini sangat kejam dan tidak dapat diterima," jelas dia.

Pengakuan Dunfrod ini datang setelah AS dan Rusia tengah berupaya melanjutkan inisiasi gencatan senjata di Suriah.

Baru tujuh hari gencatan berlangsung, muncul serangan terhadap ISIS dan kelompok Jabhat Fateh al-Sham, atau sebelumnya dikenal sebagai Front Al-Nusra.

Puncaknya, terjadi pada Senin lalu ketika serangan udara menargetkan konvoi bantuan PBB menuju Aleppo, Suriah. Sebelumnya, serangan udara pasukan koalisi pimpinan AS yang menargetkan Pangkalan Militer Deir ez-Zour.

Serangan tersebut memprovokasi kemarahan Moskow dan Damaskus lantaran dinilai salah sasaran.

Wakil Menteri Luar Negeri Rusia, Sergei Ryabkov, menyebut bahwa tudingan serangan terhadap konvoi PBB terhadap negaranya disebut sebagai rencana 'tidak masuk akal dan sangat fatal'.