Militer Thailand Tewaskan 'Pemberontak Selatan'

Polisi Thailand saat melakukan olah TKP ledakan di selatan Bangkok.
Sumber :
  • Reuters

VIVA.co.id – Mahama Maero (29), seorang tersangka “pemberontak selatan”, tewas dalam insiden tembak-menembak dengan unit paramiliter di Distrik Rueso, Provinsi Narathiwat, Thailand Selatan, pada Minggu pagi, 30 Oktober 2016.

Wakil Penyidik Polisi Distrik Rueso, Kapten Marut Nilkosee, mengatakan, penembakan terjadi lantaran unit paramiliter menemukan dan mendekati tempat persembunyian yang diduga milik Maero.

"Tersangka dipastikan tewas dan tidak ada korban jiwa dari personel paramiliter," kata Nilkosee, seperti dikutip situs Anadolu Agency, Senin, 31 Oktober 2016.

Penembakan ini hanya tiga hari berselang, setelah seorang guru perempuan ditembak mati pada siang hari dalam serangan sporadis yang dilakukan "pemberontak selatan”, sebutan bagi kelompok bersenjata dari tiga provinsi paling selatan Negeri Gajah Putih, yaitu Pattani, Yala, dan Narathiwat.

Serangan ini dikutuk sebagai “keji dan tidak manusiawi” yang terjadi di wilayah yang 80 persen populasinya dihuni etnis Melayu Muslim. Maero sudah menjadi target operasi aparat keamanan Thailand sejak lama.

Surat perintah penangkapan untuk Maero telah dikeluarkan oleh Pengadilan Pidana Narathiwat pada 2011, setelah penyidik polisi menyimpulkan bahwa ia terlibat dalam pemboman pada kereta api di Rueso yang menewaskan satu orang dan melukai 16 lainnya pada November tahun yang sama.

Pada Jumat lalu, dua pria bersenjata dengan mengendarai sepeda motor memuntahkan peluru ke arah mobil depan kantor Dinas Pendidikan Kabupaten Mayo Pattani.

Dalam insiden itu menewaskan seorang guru perempuan berusia 49 tahun yang tengah mengemudi mobil tersebut, serta melukai seorang penumpang perempuan yang berprofesi sebagai pegawai negeri sipil.

Dua penyerang, yang tertangkap kamera keamanan, meninggalkan secarik kertas yang ditempelkan di kaca mobil dengan bertuliskan, “Untuk Anda yang telah membunuh orang Malayu” - istilah lokal yang mengacu pada Melayu Muslim.

Sebelumnya, pada Senin, 24 Oktober 2016, sebuah bom meledak di dekat toko kelontong mi di Pattani, dan menewaskan seorang wanita berusia 60 tahun serta melukai 21 orang lainnya.