Rusia Ambil Peran Penting dalam Pembicaraan Damai Suriah

Konpers Rusia, Iran, dan Turki untuk mencari solusi damai di Suriah.
Sumber :

VIVA.co.id – Pembicaraan perdamaian tidak langsung antara faksi-faksi pemberontak Suriah dan perwakilan pemerintah telah dibuka di Astana, Kazakhstan.

Rusia mengambil peran sebagai perantara Timur Tengah dalam pembicaraan tersebut. Pertemuan yang akan berlangsung selama dua hari di sebuah hotel mewah itu akan fokus membahas upaya memperpanjang gencatan senjata, setelah oposisi menghancurkan kekuatan militer di Aleppo.

Diharapkan pertemuan ini akan mengarah pada pertemuan tatap muka antara pejuang oposisi dan pemerintah Presiden Bashar al-Assad. Namun, pihak pemberontak mengatakan mereka tidak memiliki rencana untuk melakukan pembicaraan langsung.

Pembicaraan ini disponsori oleh Rusia, Turki dan Iran. Sementara Amerika Serikat, Uni Eropa, Arab Saudi dan Perserikatan Bangsa-Bangsa, untuk saat ini, sebagian besar terpinggirkan.

Rusia menghadapi tantangan baru karena upayanya yang bergeser dari peserta dalam konflik, menjadi perantara perdamaian.

Pemimpin delegasi oposisi Suriah yang mewakili sebanyak 12 faksi, mengaku dalam pembicaraan Astana, bahwa Moskow benar-benar ingin bersikap netral, tetapi ditahan kembali oleh Iran dan pemerintah Suriah.

Mohammed Alloush, pemimpin delegasi oposisi Suriah mengatakan, kegagalan Moskow untuk menekan Iran dan pemerintah Suriah untuk mengakhiri pelanggaran gencatan senjata akan menjadi pukulan bagi pengaruhnya di Suriah.

ISIS tak diundang

"Ini adalah tes yang sesungguhnya bagi kekuatan dan pengaruh Rusia atas rezim dan Iran sebagai penjamin kesepakatan, sehingga jika gagal dalam peran ini, akan mengikuti kegagalan yang lebih besar," kata Alloush, seperti dikutip situs Theguardian, Senin, 23 Januari 2017.

Menurutnya, Rusia yang ingin bergerak dari pihak langsung dalam pertempuran, menjadi penjamin perdamaian. Namun, lanjut Alloush, titik ini terhalang oleh rezim Suriah yang menginginkan kegagalan gencatan senjata dan Iran yang berjuang dengan milisi sektarian di Suriah.

Rusia meyakini pembicaraan ini akan lebih produktif dibandingkan upaya sebelumnya yang dipimpin oleh Perserikatan Bangsa Bangsa, sebagian besar karena keseimbangan militer yang telah berubah di wilayah tersebut.

Oposisi Suriah mengatakan pemerintah dan militan yang didukung Iran terus melakukan serangan militer di beberapa daerah di Suriah, termasuk di Wadi Barada, dekat Damaskus, terlepas dari gencatan senjata.

Moskow mengundang semua kelompok oposisi dalam pertemuan di Astana, kecuali ISIS dan JFS. Sementara itu kelompok Ahrar al-Sham dari Turki menolak untuk menghadiri pertemuan setelah terjadi perdebatan internal yang cukup sengit.

Rusia juga percaya bahwa AS di bawah Presiden Donald Trump lebih tertarik untuk mengalahkan ISIS, ketimbang menurunkan Assad dari tampuk kekuasaan.