Pesawat Wapres Afghanistan Dilarang Mendarat di Negaranya

Pasukan Afghanistan di Bandara Kunduz.
Sumber :
  • REUTERS/Omar Sobhani

VIVA.co.id – Pesawat yang membawa Wapres Afghanistan, Abdul Rashid Dostum, ditolak mendarat di negaranya. Pesawat tersebut datang dari Turki pada Senin malam, 17 Juli 2017.

Tidak jelas siapa yang menghentikan pendaratan tersebut. Namun seorang sumber yang dekat dengan Presiden Afghanistan, Ashraf Ghani, mengatakan kepada BBC bahwa penghentian tersebut tidak dikoordinasikan dengan pemerintah.

Jenderal Dostum berangkat ke Turki pada bulan Mei 2008 di tengah isu  bahwa dia memerintahkan anak buahnya untuk menculik, memukul dan memperkosa saingan politiknya. Dostum menyangkal melakukan hal itu. Juru bicaranya mengatakan, kepergian Dostum ke Turki  untuk menjalani pemeriksaan kesehatan.

Dilaporkan oleh kantor berita Pajhwok, pada Senin malam itu, seharusnya Jenderal Dostum mendarat di bandara Mazar-e Sharif di Provinsi Balkh. Gubernur Provinsi Balkh, Atta Mohammad Noor, dan sekitar 1.000 pendukung Dostum sudah bersiap menyambutnya. Mereka membentangkan poster bertuliskan, "Selamat Datang Kembali Pemimpin Tersayang Kita."

Tapi pesawat itu tak mendapat izin untuk mendarat dan dialihkan ke Ashgabat di Turkmenistan. Diberitakan oleh BBC, 19 Juli 2017, laporan awal menunjukkan pasukan Jerman berada di belakang langkah tersebut. Namun, NATO kemudian membantahnya, dengan mengatakan bahwa keputusan tersebut adalah masalah bagi pihak berwenang Afghanistan.

Seorang sumber yang dekat dengan Presiden Ghani mengatakan kepada BBC bahwa keputusan Jenderal Dostum untuk kembali telah menimbulkan kecurigaan karena dilakukan tanpa berkonsultasi dengan pihak berwenang di Kabul.

"Kami ingin dia datang ke Kabul, karena kami ingin memiliki pemahaman yang jelas tentang apa yang sedang terjadi," kata sumber tersebut. "Tidak ada rintangan hukum baginya untuk kembali, pemerintah tidak memiliki masalah, tapi dia harus mengambil rute yang benar," ujarnya menambahkan.

Jenderal Dostum, dan dua jenderal lainnya yaitu Atta Mohammad dan Mohammad Mohaqeq, pemimpin etnik lain yang berpengaruh, baru-baru ini membentuk sebuah kelompok oposisi yang menyerukan reformasi politik besar. Mereka ingin memangkas kekuasaan presiden, yang mereka tuduh mengakumulasi kekuasaan.

Bulan Mei 2008, Jenderal Dostum meninggalkan Afghanistan dan pergi ke Turki. (one)