Puluhan Pegawai Honorer Pingsan Saat 2 Hari Demo di Istana

Pegawai Honorer
Sumber :
  • Foe Peace - VIVA.co.id
VIVA.co.id
- Pada hari kedua unjuk rasa di depan Istana Negara, Jakarta, satu per satu dari ribuan massa pegawai honorer mulai bertumbangan. Mereka sakit dan kelelahan.


Berdasarkan pantauan
VIVA.co.id
, sejak pagi, Kamis 11 Februari 2016, sudah tak terhitung jumlah peserta unjuk rasa yang ditandu ke posko kesehatan, yang terletak di Monumen Nasional (Monas).


Kondisi fisik massa pegawai honorer semakin lemah setelah hampir lebih dari 24 jam bertahan di lokasi unjukrasa di tengah terpaan cuaca dingin dan hujan deras.


Hanim, pegawai honorer asal Jepara, Jawa Tengah ini misalnya, ia terpaksa ditandu lantaran tiba-tiba saja ambruk saat mendengarkan orasi.


"Tadi memang sudah pucat wajahnya. Kurang istirahat saja sepertinya," ujar Yana teman Hanim.


Bukan hanya Hanim, Eko Pujiastuti, salah seorang guru honorer lainnya pun tiba-tiba pingsan seperti halnya Hanim. Puji yang mengajar di salah satu SDN di Temanggung, Jawa Tengah juga dibopong oleh rekannya sesama guru ke posko kesehatan.


Namun demikian, dari sekian banyak massa yang berjatuhan, Hanung seorang guru honorer asal Jepara, Jawa Tengah mungkin bisa dibilang yang paling parah. Hanung diketahui menderita vertigo.


Dari pantauan, Hanung terlihat dipasang oksigen untuk bernafas. Sampai pada akhirnya, Hanung dilarikan dengan menggunakan mobil ambulance.


"Ini sudah yang ke lima, kalau yang kelelahan itu sudah 38 orang sampai jam ini sejak pagi," kata dr Inu Haryo Harimurti, Kepala Posko Kesehatan Monas


Hingga saat ini, unjuk rasa sendiri masih terus berlangsung. Diketahui, sebanyak sembilan orang dari mereka yang kemarin sempat masuk ke Istana, sudah kembali masuk ke dalam Istana guna mencoba untuk bertemu Presiden Joko Widodo (Jokowi).


Namun demikian, hingga siang ini, kesembilan orang tersebut belum terlihat keluar dari dalam Istana.


"Saya ini hanya ingin memastikan,  bagaimana nasib kami, kami hanya meminta komitmen pemerintah, mau bagaimana soal kami. Sebenarnya, kami hanya butuh kepastian, kita bersedia ikuti aturan pemerintah tapi harus pasti," kata Ketua Umum Pengurus Besar PGRI, Sulistyo. (ren)