Pengamat: Jakarta Selalu Jadi Magnet Urbanisasi

Ilustrasi urbanisasi
Sumber :
  • VIVA.co.id/Ikhwan Yanuar

VIVA.co.id – Hadirnya pendatang baru ke Jakarta setelah Lebaran seolah menjadi bagian tak terpisahkan dari tradisi mudik. Tatkala para pemudik kembali lagi ke Jakarta, sudah umum mereka mengajak saudara atau tetangga di kampung untuk ikut mengadu nasib di ibu kota.

Kata pengamat sosial Maman Suherman, urbanisasi lumrah terjadi pada setiap kota besar di dunia. Namun yang membuat Jakarta menjadi magnet buat masyarakat pedesaan adalah posisinya sebagai kota pusat ekonomi, hiburan dan pemerintahan. 

"Sepanjang 75 persen peredaran uang ada di Jakarta, sepanjang ekspansi perbankan 80 persen di Jakarta, sepanjang ekspansi daerah juga masih di Jakarta, ya Jakarta masih menjadi magnet," ucapnya dalam perbincangan di tvOne, Senin, 11 Juli 2016.

Selama Jakarta masih menjadi pusat konsentrasi peradaban di Indonesia, kondisi ini akan terus terjadi. Maman khawatir, suatu saat Jakarta akan kesulitan menghadapi beban kepadatan penduduk. Dia lantas mencontohkan upaya meratakan penduduk yang dilakukan Amerika Serikat, dengan memisahkan pusat pemerintahan, ekonomi, dan hiburan pada tiga kota besar.

"Kalau selama ini Jakarta digabungkan, seperti New York, Las Vegas, Washington, semua digabungkan menjadi Jakarta, ya jangan heran," jelasnya.

Untuk mengatasi ini, Maman mengusulkan agar pemerintah mulai mengubah cara pandangnya terhadap Jakarta, dengan memisahkan pusat ekonomi dan pemerintahan. Hal ini diharapkan membuat urbanisasi bisa menyebar ke daerah lain.

"Pisahkan kota pemerintahan dengan ekonomi. Jangan Jakarta jadi beban, menggabungkan New York, Washington, Las Vegas, semuanya. Vietnam bisa jadi contoh paling bagus, memisahkan kota-kotanya dan mempertahankan sawah di pedesaan," ucap Maman.