Pedagang Terompet Takut Merugi Gara-gara Isu Difteri

Terompet
Sumber :
  • VIVA/ Ayu Utami

VIVA – Menjelang pergantian tahun baru 2017 menuju 2018, masyarakat dihantui isu difteri yang dapat menyebar lewat terompet. Padahal terompet merupakan salah satu ciri khas perayaan tahun baru.

Penyakit yang disebabkan oleh penularan bakteri Corynebacterium Diptheriae ini sempat dinyatakan Kementerian Kesehatan dengan status kejadian luar biasa (KLB).

Kuman difteri menyebar dengan cara seseorang menghirup cairan dari mulut atau hidung orang yang terinfeksi, dari jari-jari atau handuk yang terkontaminasi, dan dari susu yang terkontaminasi penderita. Selain itu, difteri juga dengan mudah menular pada orang yang tidak mendapatkan vaksin difteri. Cara penularan yang perlu diwaspadai, seperti menghirup percikan ludah penderita di udara saat penderita bersin atau batuk.

Baru-baru ini pun, pihak Kementerian Kesehatan meminta masyarakat waspada, difteri bisa saja menular lewat terompet. Meski isu ini ramai, namun masih banyak penjual terompet justru tidak mengetahui akan hal tersebut.

Seperti yang dikatakan oleh penjual terompet, Sucipto (63 tahun). Dia sama sekali tidak mengetahui apa-apa mengenai penyakit difteri.

"Saya baru mendengar mengenai penyakit difteri ini. Tapi saya rasa enggak akan menular lewat terompet, karena ini semua terompet baru dan belum dicoba sama siapa-siapa. Kecuali dia mau beli, dan biasanya habis coba langsung beli, " ucapnya saat ditemui oleh VIVA, di Jalan Ateri Raya Pondok Indah, Jakarta Selatan, Sabtu 30 Desember 2017.

Pedagang yang sudah bertahun-tahun menjual terompet ini, biasanya hanya berjualan di sekitar Jalan Ateri Raya Pondok Indah karena faktor usianya sehingga ia sangat cepat lelah. Biasanya Sucipto berjualan mulai dari jam 5 sore sampai jam 11 malam.

"Dulu mah bisa muter-muter daerah sini naik motor. Tapi sekarang udah cepat capek, makanya cuma bisa duduk saja di emperan," ucapnya.

Walaupun penjualan terompet saat ini sedang menurun, tetapi Sucipto tetap semangat berjualan mengingat dia masih harus menafkahi anak dan keluarganya.

Pada tahun ini Sucipto mengeluarkan modal sekitar Rp1,5 juta. Setiap terompetnya dijual dengan harga Rp7 ribu sampai Rp15 ribu.

"Tahun ini penjualan tidak seramai tahun lalu. Ini aja baru kejual 15 buah. Tapi alhamdulillah setiap waktunya makan, anak saya datang anterin makanan. Ya walaupun capek tapi jadi semangat lagi, " ucapnya.

Sama halnya dengan Sucipto, penjual terompet lainnya, Kanedi (50) merasakan hal yang sama. Ia belum mengetahui bahwa penyakit difteri dapat menyebar melalui terompet.

"Saya pernah mendengar, tapi enggak begitu paham itu penyakit seperti apa. Ya namanya penyakit saya rasa itu sudah kehendak di atas, kalo dikasih penyakit ya sakit. Kalau sehat ya sehat," ucapnya.

Penjual terompet musiman ini mengaku, jika pada hari-hari biasa, dia hanya bekerja mencari ban bekas. Dan berjualan terompet, diakuinya, sebagai mata pencaharian yang mendatangkan pendapatan terbesar tiap tahun. Namun karena semakin berkurangnya minat untuk membeli terompet membuatnya khawatir akan merugi.

"Saya sudah berjualan dari pagi, panas hujan saya tetap nunggu pembeli saja di sini. Tapi enggak kayak tahun kemarin, sekarang sepi banget. Kalo enggak habis biasanya saya simpan saja di rumah dan saya jual lagi di tahun depan," ucapnya.

Satu lagi penjual terompet, Ria (30) mengetahui penyakit difteri dan mengenai isu bahwa penyakit itu dapat menular melalui terompet. Namun ia tidak mempercayainya, menurutnya penyakit bisa datang dari mana saja, tidak hanya dari terompet.

"Penyakit datangnya dari mana saja, orang sebersih apapun kalau waktunya terkena penyakit ya sakit. Ya kalau takut kena difteri lewat terompet tiup, kan bisa pakai yang pencet," ucapnya.

Penjual terompet yang berjualan di sekitar Radio Dalam ini mengatakan bahwa penjualan saat ini menurun, namun dia tetap optimis bahwa pada tanggal 31 Desember 2017 nanti dagangannya akan habis. (one)