Esainya Terpilih, Arnita Malah Dikeluarkan dari Kegiatan Internasional

Arnita Rodelina Turnip
Sumber :
  • Facebook.com/Alifa Ayudia Hibatillah Inara

VIVA – Arnita Rodelina Turnip, mahasiswi Institut Pertanian Bogor (IPB) asal Sumatera yang viral karena beasiswanya sempat dicabut lantaran diduga memeluk agama Islam, kembali dirundung masalah. Kali ini, Arnita dikeluarkan tanpa sebab dari seminar internasional setelah esainya terpilih.

Statusnya sebagai partisipan diberhentikan oleh seorang dosen yang terlibat dalam International Summer Course Sustainable Agrifood Management in Indonesia (SAMI 2019) “From Traditional to Digital” di IPB University.

Mahasiswa Fakultas Ekonomi Manajemen itu mengaku kecewa diminta bungkam agar tidak melaporkan apa yang dialaminya kepada siapa pun usai mengalami hal tersebut.

Seminar yang berlangsung di kampus IPB pada 18-28 Agustus 2019 itu diikuti sejumlah mahasiswa mancanegara, antara lain Jepang, Kamboja, Vietnam, Singapura, Jerman, Thailand, India, dan Malaysia.

Arnita terkejut, pasalnya baru seminggu acara berlangsung mendapat pemberhentian via WhatsApp tanpa alasan dan kesalahan yang jelas.

Menurut dia, keputusan sang dosen suatu tindakan sepihak dan dia menjadi korban. Selain si dosen mengabaikan haknya sebagai seorang partisipan, Arnita tidak sedikit pun didengar keterangannya.

Arnita adalah satu dari empat partisipan mewakili Fakultas Ekonomi dan Manajemen (FEM). Dalam acara SAMI, setiap tim harus membuat esai untuk selanjutnya diajukan ke panitia sebagai syarat mengikuti summer course. Di akhir acara SAMI, esai akan dilombakan untuk mencari juara 1, 2 dan 3 hingga mendapatkan sertifikat internasional.

Diberhentikan Sepihak

Selama kegiatan berlangsung bersama kelompoknya, Arnita membuat esai berjudul "Manajemen Keberlanjutan Pangan dengan Bekerja Sama pada Petani Kecil Desa Ciapus, Bogor, Indonesia." Esai berbahasa Inggris itu pun terpilih untuk dipresentasikan pada Rabu 27 Agustus 201. Arnita mengakuinya sudah berjalan sejak beberapa tahun terakhir di Bogor dan dinilai terbaik.

"Jadi dikeluarkannya cuma gitu, lewat WhatsApp. Jadi aku ngerasa dia mengeluarkan aku secara sepihak tanpa mendengarkan dulu dan tidak melibatkan panitia dan dosen lainnya. Hari Sabtu itulah aku langsung diberhentikan sepihak," kata mahasiswi asal Kabupaten Simalungun itu diwawancarai VIVAnews.

Arnita lantas dihampiri seniornya sebagai panitia. Panitia memaksanya agar tidak berbicara tentang pemberhentian itu kepada mahasiswa asal negara lain. Arnita diminta menuruti untuk patuh saat dikeluarkam dan tidak boleh mengkritik si dosen.

Menurutnya, pemberhentian itu tidak masuk akal. Sebab, sanksi yang diberikan sangat cepat tanpa terlebih dahulu diberikan peringatan. Bahkan tak sekalipun diberikan kesempatan untuk mengetahui penyebabnya. Arnita merasa tidak pernah mendapatkan surat keterangan pemberhentian dari IPB yang dijanjikan sang dosen.

Dia terus berjuang menuntut dan mencari keadilan. Namun, sang dosen tetap pada pendiriannya agar Arnita didiskualifikasi di acara SAMI.

"Di dalam acara SAMI ini ada enam kelompok dan harus mempresentasikan esainya. Kebetulan di kelompok saya sepakat pakai esai saya yang dilombakan karena, menurut kelompok saya, esaikulah yang terbaik dan merupakan proyek berjalan,” ujarnya.

“Nah, Rabu itu suruh ke sana hanya untuk presentasi doang tapi enggak ikut serta dalam SAMI lagi. Enggak mungkin teman saya bisa presentasi karena itu esai saya, dan saya dipastikan enggak dapat sertifikat karena sudah didiskualifikasi. Teman-teman lain itu pasti dapat, makanya itu enggak adil bagi saya, dan esai itu karya saya," katanya.

Sampai berita ini dipublikasikan, panitia SAMI yang dihubungi menolak berkomentar. "Mohon maaf, saya tidak berwenang untuk menjawab," kata seorang liaison officer SAMI, Paksi, kepada VIVAnews.

Dihubungi terpisah, Kepala Biro Hukum, Promosi, dan Humas IPB Yatri Indah Kusumastuti enggan menjelaskan secara rinci tentang dikeluarkannya Arnita dalam kegiatan itu. Anita, katanya, hanya dibolehkan presentasi meski sudah empat hari tidak mengikuti kursus. 

"Arnita tidak diberhentikan dari program summer course. Yang bersangkutan tetap bisa melanjutkan essay competition-nya," ujar Yatri. (ase)