Uji Klinis Terapi Plasma Darah COVID-19 Dimulai

Petugas medis memeriksa kantong berisi plasma konvalesen dari pasien sembuh COVID-19 di Unit Tranfusi Darah Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat Gatot Soebroto Jakarta, (18/08).-ANTARA FOTO/NOVA WAHYUDI/FOC.
Sumber :
  • bbc

Kondisi sejumlah pasien yang membaik setelah diberi plasma darah diklaim pula oleh Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Udayana, Dokter I Ketut Suyasa.

RS Unud telah secara mandiri menggunakan bentuk terapi ini sejak beberapa bulan yang lalu.

Bagaimana syarat antibodi ideal?

Merujuk sejumlah penelitian, Ruswana mengatakan donor ideal adalah mereka yang pernah mengalami gejala parah selama menderita covid-19.

Syarat lain yang harus dipenuhi adalah mereka harus negatif covid-19 minimal selama dua minggu dan maksimal selama tiga bulan.

Mereka juga tak boleh menderita penyakit-penyakit seperti AIDS atau hepatitis, tambah Ruswana.

Tak hanya itu, syarat donor ideal lain dijelaskan Dokter Tonang Dwi Ardyanto, yang juga pengajar di Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret.

Ia mengatakan pemilihan pasien yang sudah sembuh itu harus dilakukan secara hati-hati karena tak semua memiliki antibodi cukup.

Ia merujuk juga sebuah penelitian di Inggris Juni lalu, yang menunjukkan 2% hingga 8,5?ri sekitar 100 pasien covid-19 yang dianalisis, tidak mengembangkan antibodi meski telah sembuh dari virus corona.

Jika orang seperti itu menjadi donor, plasma mereka tak akan efektif, malah bisa membawa risiko, katanya.

Tonang menjelaskan dua syarat antibodi seseorang bisa digunakan.

"Satu, kadarnya cukup, dua memiliki daya netralisasi (virus). Kalau dua ini belum terpenuhi sementara virusnya datang, maka perlawanannya jadi perlawanan parsial.

"Dia bisa mengikat virus, tapi tidak bisa menjinakan atau melumpuhkannya. Jadi justru dalam hal covid, dikhawatirkan membuat virus lebih mudah untuk berikatan masuk sel tubuh kita."

Ia menyebut kondisi itu sebagai antibody-dependent enhancement (ADE).

"Maka donor yang akan dipakai untuk memberi plasma konvalasen itu sudah dengan persyaratan ketat. Jadi, tidak semua yang sembuh dari covid-19 bisa menjadi donor.

"Ibaratnya jumlah `tentaranya` cukup, senjatanya ada`.

`Keterbatasan teknologi`

Sayangnya, teknologi untuk melakukan hal itu masih sangat terbatas. Rumah Sakit Umum Pusat dr Hasan Sadikin misalnya tak memiliki fasilitas seperti itu.

Meski begitu, ketua tim plasma konvalensen Ruswana Anwar mengatakan kadar antibodi yang rendah, dalam beberapa kasus, tetap dapat membantu memperbaiki kondisi pasien yang dirawat di ICU.