Halo
Pembaca

VIVANetworks

News

Bola

Sport

Showbiz

LifeStyle

Otomotif

Digital

Ragam

Militer

Netizen

Insight

Informasi

Samin Tan Didakwa Suap Eni Saragih Rp5 Miliar

Selasa, 22 Juni 2021 | 00:04 WIB
Foto :
  • VIVA.co.id/ Edwin Firdaus
Pengadilan Tipikor/Ilustrasi.

VIVA – Bos PT Borneo Lumbung Energi dan Metal tbk (PT BLEM), Samin Tan didakwa melakukan penyuapan oleh Jaksa Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap mantan Anggota Komisi VII DPR RI, Eni Maulani Saragih senilai Rp5 miliar.

Suap tersebut diduga terkait permasalahan pemutusan Perjanjian Karya Pengusahaan Pertambangan Batu Bara (PKP2B) Generasi 3 antara PT Asmin Koalindo Tuhup (AKT) dengan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) di Kalimantan Tengah.

Baca Juga

"Telah melakukan beberapa perbuatan yang ada hubungannya sedemikian rupa sehingga dipandang sebagai perbuatan berlanjut berupa memberi atau menjanjikan sesuatu yaitu memberi uang sejumlah Rp5 miliar kepada pegawai negeri atau penyelenggara negara yaitu kepada Eni Maulani Saragih," kata Jaksa Ronald Ferdinand Worotikan saat membacakan surat dakwaan di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta, Senin, 21 Juni 2021.

Baca juga: Kekerasan Seksual Meningkat, Moeldoko: RUU PKS Mendesak Disahkan

Jaksa menjelaskan, PT AKT mempunyai Coal Contract of Work (CCOW) atau PKP2B dengan Kementerian ESDM yang memberikan hak bagi PT AKT untuk melakukan kegiatan pertambangan batu bara di Kabupaten Murung Raya, Kalimantan Tengah seluas sekitar 40.000 hektare.

Sejak Oktober 2017, kata Ronald, penerbitan Surat Keputusan Menteri ESDM No.3174K/30/MEM/2017 tanggal 19 Oktober 2017 mengenai pengakhiran (terminasi) PKP2B itu yang berakibat PT AKT tidak bisa lagi menambang dan menjual hasil tambang batu baranya.

Alasan terminasi karena PT AKT dianggap telah melakukan pelanggaran atas PKP2B dimaksud berupa menjaminkan PKP2B tersebut pada tahun 2012 kepada Bank Standard Chartered Cabang Singapura terkait pinjaman PT BLEM sejumlah US$1 miliar.

PT AKT kemudian mengajukan upaya hukum ke Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Jakarta. Pada tingkat pertama, menang, tetapi di tingkat banding dan kasasi, PT AKT kalah.

Topik Terkait
Saksikan Juga
Terpopuler