Berburu Koin Sultan Dinasti Umayyah dan Abbasiyah di Tapanuli Tengah

BBC Indonesia
Sumber :
  • bbc

Perburuan koin dinasti awal Islam di Situs Bongal, Tapanuli Tengah, masih berlangsung. Belum ditetapkan sebagai cagar budaya, warga berniat swadaya membuat museum.

Badannya kecil, tapi Hasmiran Tanjung mengangkat ember di hadapannya dengan enteng saja, seperti tak ada apa-apa. Padahal itu ember cukup berat. Isinya pecahan gerabah, keramik, gelas-gelas, patung kayu, batu-batuan, koin, dan sejarah panjang yang membentang nyaris tiga belas abad.

Hasmiran adalah pegiat situs sejarah di Jago-jago, Kecamatan Badiri, Kabupaten Tapanuli Tengah. Desa yang menjadi pusat perhatian berkat penemuan koin-koin kuno yang diperkirakan berasal dari masa dinasti Umayyah dan Abbasiyah pada abad keenam Masehi.

BBC
Hasmiran Tanjung dan ember berisi benda-benda arkeologi temuannya.

Urusan gali menggali, Desa Jago-jago memang sudah sohor duluan. Dari sinilah, sejak 2010 batu-batu akik ditambang.

"Booming tahun 2015. [Jenis batunya] kalsedon yang warna merah-merah pantai," kata Hasmiran yang sekarang turut berburu harta karun di antara kanal-kanal kebun kelapa sawit yang kurang terawat.

BBC
Batuan akik awalnya jadi primadona kawasan ini. Tapi sekarang batu akik sudah jarang ditemukan.

Untuk mendapatkan `harta karun` itu, penduduk setempat menyelam di kanal dengan kedalaman satu hingga tiga meter, senjatanya hanya dua: sekop dan bak.

Hasmiran setidaknya sudah mendapatkan empat koin dari hasil kerja kerasnya. Semuanya telah ludes terjual.

"[Harga koin] yang pertama ditemukan murah-murah, ada yang seratus ribu ada yang tiga ratus ribu, karena tak tahu. Setelah tim arkeolog turun barulah tahu," kata dia kepada Hilman Hamdoni yang melaporkan untuk BBC News Indonesia.

BBC
Bekas penambangan batu akik telah ditutup warga dan kini sudah jadi hutan yang cukup lebat. Tak jauh dari hutan inilah sisa patung Ganesha dari abad kesembilan ditemukan.

Pengetahuan dan wawasannya makin terasah karena dia juga ikut forum-forum barang antik di media sosial.

"Kadang-kadang jumpa juga dengan orang Palembang, kutunjukkan ini [artefak] dari Tap-Teng [Tapanuli Tengah] dari zaman Khalifah Abbasiyah. Kalau dia kan Zaman Sriwijaya. Manik-maniknya sama dengan yang ada di sini," kata dia.

Dari forum online ini pula transaksi juga bisa terjadi. Barang-barang dikirim kepada para kolektor, termasuk politisi masyhur dari Jakarta, kata si petambang.

Demam berburu koin emas, sebut dia, kira-kira bermula sejak 2017.

"Awalnya Pak Siregar, dia juga penyelamat situs ini, berkebun di sana. Membuat parit untuk drainase kebun. Di situ ada koin, butiran, serbu [emas]," kata Hasmiran.

Setelah penemuan itu, lubang-lubang galian mulai dibuka untuk mencari emas. Tapi saat itu warga hanya mengambil benda yang bernilai ekonomis saja.

"Walaupun koin, kalau tak ada kandungan emasnya ya dibuang," tambahnya.

Hasil temuan warga kebanyakan tak bernilai ekonomis, tetap Hasmiran tetap menyisihkannya dekat wilayah penggalian agar bisa dimanfaatkan untuk disimpan atau penelitian.

Tali ijuk seperti pada foto di atas, biasanya dipakai untuk mengikat batang-batang struktur rumah, rumah atau bisa juga dermaga.

Dua tahun setelah itu, barulah para ahli berdatangan ke situs. Dari situ diketahui, koin-koin beraksara arab itu lebih dari sekadar barang kuno biasa.

Saat itu teridentifikasi koin-koin tersebut berasal dari abad ketujuh hingga kedelapan masehi, di abad pertama kekhalifahan Islam.

Tapi sebenarnya di Situs Bongal yang terletak di Desa Jago-jago itu lebih dari sekadar emas dan koin-koin. Di sini juga ditemukan manik-manik, keramik dari China dan Persia, guci, bagian kapal, gelas-gelas alembic (ini bisa dijadikan indikasi ada aktivitas penyulingan minyak), kayu perkakas, dan hiasan logam yang berasal dari abad ketujuh Masehi.

Tak jauh dari situs juga terdapat sisa-sisa dari arca Ganesha yang diperkirakan berasal dari abad kesembilan Masehi. Jika begitu, boleh jadi Desa Sijago-jago ini termasuk salah satu kota kosmopolitan tertua di nusantara.

Situs Bongal terletak tak jauh dari Kota Sibolga. Ia berada di antara perkebunan karet, kelapa sawit, dan nipah milik warga.

Situs ini diapit Bukit Bongal, muara, dan lautan. Tanahnya agaknya cukup labil. Kadang-kadang lubang yang telah digali warga tertutup sendiri akibat butiran pasir dan tanah dari erosi sekitar, kata Hasmiran.

Tak ada aturan resmi yang melarang penambangan dan pencarian harta karun. Tapi warga luar desa sekarang sudah dilarang sama sekali untuk datang. Hanya warga sekitar sajalah yang masih bisa bolak-balik masuk ke situs.

Oleh mereka, artefak yang bernilai ekonomis diambil. Di luar itu, yang sekiranya penting, misalkan keramik, pecahan kaca, potongan kayu, tali ijuk, juga tetap disisihkan dan dikumpulkan.

Sebagian di antaranya masuk ke dalam yang disebut warga sebagai galeri. Tempat menyimpan aneka temuan, termasuk kemudi kapal sepanjang empat meter.

Setelah penemuan berbagai artefak oleh tim arkeolog yang temuannya dipaparkan pada Januari 2021 lalu, wacana untuk menetapkan Situs Bongal sebagai cagar budaya mengemuka. Tapi hingga kini itu belum terwujud. Warga pun lantas berinisiatif untuk melakukan pelestarian mandiri.

"Ada rencana untuk membuat museum. Lahan juga sudah dipersiapkan," kata Hasmiran lagi.

Situs Bongal, menurut Balai Arkeologi Sumatera Utara, adalah satu tempat yang akan mengubah historiografi (kesejarahan) Indonesia. Namun kondisinya yang tak terawat dikhawatirkan justru menjadikan data arkeologis penting di sana menjadi rusak.

Hasmiran sendiri telah menyimpan beberapa peninggalan, sebagian ditaruh di dalam ember yang tadi diangkatnya. Sebagian yang lain, yang cukup menarik mata, disimpan di dalam plastik - termasuk perhiasan kuningan berbentuk kijang.

"Saya minta maaf. Tapi [untuk yang ini] saya tidak serahkan kepada galeri. Saya mau simpan," kata dia.