Program BLT Cermin Pemerintah Kalah Hadapi Mafia Minyak Goreng
- bbc
Dia membantah bahwa kebijakan BLT sebagai solusi instan atas persoalan di dalam negeri dan menekankan bahwa penyebab utama harga minyak goreng meningkat karena terjadi lonjakan harga secara global.
`Kalau tak ada solusi lain, ketika bantuan habis ya habis juga lah kami`
Sejak pandemi melanda, omset di warung makan Ulfa menurun hingga 70%. Situasi terasa makin sulit baginya ketika harga bahan-bahan pokok naik, terutama minyak goreng.
Warung makan itu biasanya membutuhkan empat liter minyak goreng per hari. Namun belakangan ini, Ulfa mengaku kesulitan mencari minyak goreng curah. Sedangkan minyak goreng kemasan harganya kian tinggi dan pembeliannya kerap dibatasi.
"Sampai ngantre sih enggak, tapi susah dapatnya harus mencari kemana-mana. Kemarin dapat minyak curah Rp20.000 per liter, pernah juga beli dua liter itu Rp45.000," kata Ulfa mengeluhkan mahalnya harga minyak goreng curah meski pemerintah telah menetapkan harga tertingginya sebesar Rp14.000 per liter.
Dengan selisih harga yang harus ditanggung untuk membeli minyak goreng, Ulfa merasa BLT senilai Rp100.000 per bulan tidak cukup. Jumlah itu paling-paling hanya menutupi selisih harga dalam sepekan untuk pelaku usaha seperti dirinya.
"Enggak cukup sih, maunya semua dinormalin aja dan harga seperti biasa. Karena kan sudah pandemi, semua bahan naik, pendapatan enggak seberapa. Ya sudah kita bisa apa? Sehari-hari (penghasilan) cukup buat makan saja," ujar dia.
Di Kabupaten Agam, Sumatera Barat, seorang petani bernama Delianis, 51, juga mengeluhkan sulit dan mahalnya minyak goreng.
Delianis berpenghasilan sekitar Rp30.000-Rp50.000 per hari. Dia juga terdaftar sebagai penerima bantuan melalui program keluarga harapan yang akan berhak menerima BLT minyak goreng.
Beberapa waktu belakangan ini, kenaikan harga minyak goreng membuat Delianis mau tidak mau mengurangi konsumsinya. Biasanya satu liter minyak goreng habis dalam sepekan, namun sekarang dia berusaha agar satu liter minyak goreng cukup untuk konsumsi satu bulan.
"Sekarang ini makanan direbus-rebus saja banyaknya, biasanya sering bikin gorengan untuk sore-sore. Sekarang minyak goreng cuma dipakai untuk lauk utama aja," kata dia.