Pakar dan Akademisi Sarankan Chattra Segera Dipasang di Candi Borobudur

Puncak candi Borobudur.
Sumber :
  • Istimewa

Jakarta - Ditjen Bimas Buddha Kementerian Agama telah melakukan pertemuan dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) terkait rencana percepatan pemasangan Chattra di Candi Borobudur. Pertemuan itu merespons hasil Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Kementerian Agama Tahun 2024.

Pembahasan percepatan pemasangan Chattra di Candi Borobudur disampaikan lagi dalam Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) Tingkat Nasional 2024 Direktorat Bimbingan Masyarakat Buddha di Jakarta, Kamis, kemarin.

Sejumlah akademisi dan pemerhati candi mendorong agar pemasangan chattra atau payung di puncak Candi Borobudur segera diwujudkan. Alasannya dengan kehadiran chattra diyakini akan berikan banyak dampak positif bagi umat Buddha baik di Indonesia maupun dunia.
 
Menurut mereka, Chattra punya banyak makna filosofis yang mendalam melebihi aspek kesejarahan dan arkeologis. Hadir dalam acara tersebut antara lain dosen Antropologi Universitas Diponegoro Semarang Stanley Khu, Pemerhati Buddhis Nusantar Prawirawara Jayawardhana, dan pakar sekaligus pemerhati Candi Borobudur Hendrick Tanuwijaya.

Stanley Khu menyampaikan sekarang sudah waktunya memahami Borobudur tak hanya sebagai candi dalam konteks historis atau arkeologis.

"Akan lebih bermanfaat untuk juga memahami Borobudur sebagai kuil kebudayaan tempat ornamen-ornamen dan simbol-simbol Buddhis yang diakui secara universal oleh masyarakat Buddhis di berbagai belahan dunia," kata Stanley dikutip pada Jumat, 23 Februari 2024.

Musrebang Tingkat Nasional 2024 Direktorat Bimbingan Masyarakat Buddha di Jakarta

Photo :
  • istimewa

Dia menyebut seperti chattra yang dinilai bisa bersinergi dengan keseluruhan bangunan monumen. "Tanpa adanya keberatan terkait isu orisinalitas ataupun keilmiahan dari pemasangan chattra di stupa candi," jelas Stanley.

Menurut dia, chattra berpotensi untuk secara simbolik mewakili imajinasi kolektif umat Buddhis terkait ruang sakral mereka.

Ia menjelaskan mesti diingat dalam tradisi keagamaan manapun, ruang sakral berikut ornamen pelengkapnya sebagai aspirasi umat. Kata dia, untuk chatrra diharapkan bisa jadi memunculkan kebangkitan kesadaran dan kepedulian pemuda-pemudi Buddhis di Indonesia.

"Terhadap isu chattra dan kemungkinan pemasangannya di stupa Borobudur dapat dibaca sebagai kebutuhan mendasar umat beragama untuk membayangkan sebuah cara hidup ideal yang bajik dan bermakna," ujarnya.

Sementara, Prawirawara Jayawardhana berpandangan chattra punya catatan sejarah dan dasar filosofi. Ia menyebut chattra juga jelas serta mendalam di dalam Buddhisme.

Menurut dia, hal itu terbukti dalam tradisi teks Pali maupun Sanskrit, maupun Sutrayana dan Tantrayana.

“Konsep payung sebagai pelindung bagi makhluk-makhluk suci, bisa ditemukan antara lain mulai dari Mucalindasuttam, hingga Lalitawistara Sutra, Gandawyuha Sutra, Karmawibhangga Sutra, Jatakamala hingga berbagai kisah di dalam Awadana," jelas Prawirawara.

Dia menyebut Candi Borobudur menyimpan catatan atas sutra-sutra tersebut dalam bentuk ukiran-ukiran relief di dindingnya.

Lebih lanjut, dia menyoroti selama ini, polemik pemasangan chattra hanya dibahas dari satu sisi keilmuan arkeologi. Menurut dia, sudah saatnya jawaban atas polemik ini juga dicari dari sisi filosofis Buddhisme.

Dia bilang demikian karena pada dasarnya Candi Borobudur dibangun berdasarkan filosofi Buddhisme.

“Oleh karena itu, pemasangan chattra pada stupa utama Candi Borobudur adalah sesuatu yang sangat bisa dipertanggungjawabkan dari sisi Buddhisme," jelasnya.