Dampak Korupsi: Bodoh, Rusuh, Matre, & Cerai

Penasihat KPK, Abdullah Hehamahua
Sumber :
  • Antara

VIVAnews --  Calon pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Abdullah Hehamahua  mengatakan ada banyak dampak sosial yang ditimbulkan karena maraknya korupsi.

Salah satunya dalam bidang pendidikan. Kata Abdullah, korupsi membuat secara nasional, rata-rata anak yang ikut pendidikan formal hanya sampai kelas 2 SMP.

Apa hubungannya? "Dana bantuan operasional sekolah (BOS) berjalan tapi dana itu tidak digunakan dengan baik," kata Abdullah saat menjalani fit and proper test di Komisi III DPR RI, Selasa 29 November 2011.

Selain itu, korupsi juga berdampak pada keamanan dan keutuhan negara. Seperti terjadi kerusuhan di beberapa daerah pasca pilkada karena adanya politik uang alias money politic.

Sementara, pengaruhnya terhadap sosial budaya adalah menciptakan masyarakat yang cenderung hedonis, materialistis dan anarkis. Korupsi secara tidak langsung juga berdampak tingginya angka perceraian. "Sebanyak 70 persen orang bercerai karena masalah ekonomi," kata Abdullah.

Adanya masalah yang kompleks seperti itu, maka kata Abdullah, tugas KPK yang utama adalah melakukan pencegahan terhadap tindak pidana korupsi. Salah satunya pencegahan itu adalah peran serta masyarakat.
Hal itu dapat dilakukan dengan sosialisasi budaya anti korupsi, selain itu juga melibatkan perguruan tinggi.

Sementara, hukum tegas tanpa pandang bulu juga harus diberlakukan pada para koruptor. Bagi kelas kakap, koruptor layak dihukum mati.