Kesulitan Ekonomi, Ibu Dua Anak Nekat Gantung Diri

Martini (44) nekat gantung diri.
Sumber :
  • Adib Ahsani/VIVAnews

VIVA.co.id – Martini, seorang ibu rumah tangga di Ngawi Jawa Timur, nekat mengakhiri hidup dengan cara gantung diri. Beruntung, nyawa wanita 44 tahun ini bisa tertolong.

Diduga kuat, ibu dua anak ini nekat mengakhiri hidupnya karena frustasi dengan penyakit suami yang tak kunjung sembuh.

Warga Desa Sumberagung Kecamatan Paron Ngawi itu di bawa ke Unit Gawat Darurat RSUD Soeroto Ngawi. Pertolongan tim medis berhasil menyelamatkan nyawa Martini. Lehernya tampak membiru, bekas jeratan tali.

"Sebelumnya, dia (korban) masih mengobrol dengan tetangga di depan rumah. Lalu, dia bilang akan berbelanja. Namun tetangga mendengar bunyi mencurigakan dari dalam rumah. Setelah ditengok, Martini menggantung di rumah,” ujar Patiyem, adik korban, Senin 26 Januari 2015.

Patiyem menambahkan, tetangga langsung memotong tali yang menjerat leher korban. Martini kemudian di bawa ke RSUD Soeroto Ngawi untuk mendapatkan pertolongan medis. "Saat dibawa ke rumah sakit, kondisinya mengorok," kata Patiyem.

Patiyem menduga kakaknya nekat mengakhiri hidupnya lantaran frustasi. "Sering mengeluh ke saya soal penyakit kencing manis suaminya yang bertahun-tahun tak sembuh. Sudah sering berobat, tetapi tidak sembuh. Untuk dirawat di rumah sakit, tidak mampu," ujar Patiyem yang menangis sesenggukan.

Martini kini sedang dalam perawatan di rumah sakit. Menurut dokter, jeratan tali di lehernya tidak sampai mengganggu pernapasan. "Saat ini kondisinya masih stres, karena peristiwa itu," kata Dokter Indah Witarti, usai memeriksa kondisi korban.

Yang perlu dipantau, menurut Indah, adalah kondisi jiwa korban. "Harus dibesarkan hatinya, dan diberi pengertian, bahwa penyakit suaminya itu masih bisa ditangani. Kalau soal biaya rumah sakit, keluarga korban masih bisa mengurus BPJS Kesehatan, yang akan membiayai perawatan di rumah sakit," tutur Indah.

Martini dan suaminya, Misran, hidup berdua. Sementara dua anaknya merantau ke Jakarta. "Kondisi ekonomi dan penyakit yang tak sembuh itu yang menyebabkan dia nekat gantung diri," ujar Patiyem.