Kisah Gus Dur dan Kiai NU Memperdaya Intelijen Orde Baru

Foto Gus Dur - Abdurrahman Wahid
Sumber :
  • Antara/ Fanny Octavianus

VIVA.co.id - Di zaman Orde Baru, Presiden Soeharto memakai cara-cara represif untuk mengendalikan negara. Maka tak heran, peran intelijen sangat besar untuk mengamankan setiap ancaman bagi pemerintahan Orde Baru.

Inteljien disebar ke seluruh pelosok tanah air, termasuk ormas keagamaan, seperti Nahdlatul Ulama dan para kiainya.

Kisah kiai menghadapi intelijen pemerintah Orde Baru ditulis Rijal Mumaziq dalam buku Strategi Kontra Intelijen Para Kiai. Di zaman itu, seringkali Abdurrahman Wahid alias Gus Dur, dikuntit intel pemerintah.

Gus Dur tergolong tokoh yang kritis terhadap pemerintah. Yang ia lakukan hanyalah berdoa semoga tidak benar-benar dihabisi oleh rezim saat itu.

Pada Muktamar NU di Situbondo, di mana NU memutuskan kembali ke khitahnya, para intel berkeliaran di arena muktamar. Bahkan para agen pemerintah menyusup masuk ke ruang-ruang sidang, memata-matai setiap pembicaraan para kiai.

Dalam sebuah rapat penting yang dihadiri oleh para kiai yang membahas tentang Pancasila, tiba-tiba Gus Dur meminta KH. Prof. Tolchah Mansoer dan KH. Achmad Siddiq agar memimpin sidang dan berpidato menggunakan bahasa Arab.

Kiai Tolchah dan Kiai Achmad yang belum paham sepenuhnya maksud Gus Dur segera memimpin rapat menggunakan bahasa Arab. Rapat berjalan mulus, karena tentu saja, para kiai yang hadir memahami bahasa Arab sepenuhnya.

Usai rapat, Kiai Tolchah Mansoer bertanya kepada Gus Dur mengenai usulnya agar menggunakan bahasa Arab.

"Mas, rapat kita di dalam tadi itu diawasi oleh intelnya pemerintah, makanya sampeyan saya suruh berbahasa Arab. Mengapa? Karena intelnya pemerintah itu intel kepet (abangan) yang enggak bisa bahasa Arab..hehehe," jawab Gus Dur.

Ketika menjadi Presiden, Gus Dur langsung merombak Badan Intelijen Strategis (BAIS) dengan struktur baru dan pelan-pelan memutus jaringan Orde Baru di struktur BAIS dengan mengangkat Wakil Kepala BAIS, Letjen Arie J. Kumaat untuk memimpin lembaga baru intelijen, Lembaga Intelijen Negara (LIN).

Gus Dur sepakat dengan konsep reorganisasi seluruh organisasi intelijen di Indonesia. Anggaran LIN ditambah. Struktur organisasinya berubah. Ada lima deputi yang menangani intelijen asing, intelijen dalam negeri dan analisis.

Mulai Januari 2001, LIN pun diubah namanya menjadi Badan Intelijen Negara (BIN). Gus Dur tercatat sebagai presiden sipil yang dengan berani mengotak-atik tatanan intelijen negara.

Dalam buku 'Belajar dari Kiai Sahal', termuat kisah bagaimana dengan cara yang khas Kiai Sahal menghadapi jaringan telik sandi pemerintah. Pernah dalam suatu acara besar yang digelar selama beberapa hari, Kiai Sahal selalu rutin diantar jemput oleh seseorang bertubuh tegap memakai sepeda motor.

"Wah, njenengan enak ya kiai. Ke sana-kemari ada yang ngantar pakai sepeda motor!" kata beberapa sahabat Kiai Sahal yang melihatnya diantar naik motor.

Lha, enak gimana, wong itu intelnya Kodim," jawab Kiai Sahal.

Dalam beberapa kali bahtsul masail di MWCNU Margoyoso Pati, ada pihak intel yang mengawasi dengan menyaru sebagai kiai maupun santri.

Kiai Sahal membuka acara, mempersilakan sambutan beberapa pihak, memulai diskusi fiqih sebagai pengantar, sampai menunggu intelnya menyingkir pulang.

Setelah si intel pulang, barulah bahtsul masail sebenarnya dimulai dan dijalankan dengan serius. (ase)