Antara Kampung Pulo, Ciliwung dan Venesia Timur

Kawasan Kampung Pulo Jakarta Timur
Sumber :
  • ANTARA FOTO/Prasetyo Utomo

VIVA.co.id - Jakarta pernah dijuluki sebagai Venesia dari Timur pada beratus tahun lalu. Beratus gedung megah pernah berdiri di tepi-tepi kanal.

Sebab itu, saking eloknya masa itu, Ciliwung yang membelah Jakarta mulai dari Bogor, termasuk di wilayah yang kini sedang diributkan karena hendak digusur, pun pernah menjadi urat nadi sekaligus benteng pertahanan penjajah kala itu.

Kemegahan ini dirancang oleh Gubernur Jenderal Jan Pieterzoon Coen yang telah membangun Batavia atau Jakarta sejak 1619.

Di tangannya, JP Coen banyak membuat kanal dan terusan yang membelah-belah Batavia. dan beberapa sungai lain pun dipecah hingga membentuk puluhan kanal atau terusan.

Dikutip dalam 'Ciliwung Venesia dari Timur' yang ditulis oleh Alwi Shihab. Dulunya dilewati rakit-rakit bambu membawa barang-barang dari daerah pedalaman.

Selain itu dengan membangun banyak kanal, dimaksudkan agar transportasi yang kala itu mengandalkan sungai berjalan lancar. Selain untuk MCK (mandi, cuci, dan kakus) berupa getek-getek untuk keperluan hajat penduduk.

tempo dulu juga menjadi pusat hiburan rakyat. Seperti pesta pehcun yang dirayakan pada hari keseratus Imlek. Keramaian digelar dalam bentuk karnaval perahu yang diiringi ratusan perahu yang dihias dan dimeriahkan orkes gambang keromong.

Pesta ini berjalan semalam suntuk diterangi oleh lampion warna-warni diiringi para cokek yang ngibing tidak kalah eksotiknya dengan penyanyi dangdut.

Tahun 1940-an di tepi bisa dijumpai pemandangan puluhan wanita tengah mencuci pakaian di tepi sungai Ciliwung di Molenvliet (kini Jl Hayam Wuruk dan Jl Gajah Mada), Jakarta Kota.

Bahkan saking jernihnya, banyak tukang cuci dan binatu yang memanfaatkan sungai Ciliwung untuk menerima cucian yang merupakan salah satu profesi warga Betawi. Sehingga ada kampung di Jakarta bernama Petojo Binatu, karena banyaknya warga berprofesi tukang binatu.

Namun demikian, di balik eksotiknya sungai yang memiliki panjang sekira 120 kilometer ini, Ciliwung juga menjadi penyebab terjadinya banjir di Jakarta.

Kejadian itu pernah terjadi di tahun 1872. Kala itu Ciliwung meluap hingga membuat Molenvliet (Harmoni), yang merupakan kawasan elite dan pertokoan di Batavia digenangi air.

Sejumlah daerah Jakarta pun terendam hebat. Termasuk hingga kawasan Rijswijk (kini Jalan Veteran) tempat Istana Negara berada.

Ciliwung juga tanpa mengenal ampun mengalir di atas kebun-kebun di perumahan-perumahan penduduk yang berada di belakangnya. Malapetaka ini terjadi selama beberapa hari.

Kampung Petojo yang berada di bagian belakang Molenvliet juga terendam. Termasuk Gedung sosiatet Harmoni, salah satu gedung termegah di Batavia pada abad ke-19 juga tergenang.

Venesia dari Timur pun gagal total. Lumpur-lumpur tebal yang dibawa Ciliwung memenuhi Jakarta. JP Coen luput memperhitungkan dampak buruk Ciliwung dan kekuatannya. Hingga akhirnya di tahun 1830, saat Herman Willem Daendels memerintah, ibu kota Hindia pun akhirnya dipindahkan ke tempat yang lebih tinggi.