Menguak Bisnis Prostitusi Artis Manajemen Princess

Bisnis prostitusi artis di Surabaya
Sumber :
  • VIVA/Tudji Martudji

VIVA.co.id - Bisnis sebagai muncikari dengan menjajakan pekerja seks komersial (PSK) memang sangat menggiurkan. Itu pula yang membuat dua muncikari bisnis prostitusi online berinisial AL (25)dan AS (23), (sebelumnya disamarkan berinisial YY dan BS) kepincut dengan bisnis haram ini.

Kedua muncikari tersebut sempat menggemparkan, karena melibatkan artis dan model majalah dewasa, AS atau Anggita Sari (23). Konon, keduanya bisa meraup keuntungan hingga mencapai Rp120 juta.

Asumsinya, dalam sehari dua muncikari tersebut mampu 'menjual' dua perempuan dengan tarif rata-rata Rp2 juta per jam kepada konsumen, lelaki hidung belang.

"Itu belum termasuk week end, atau hari-hari libur, yang kadang bisa 5 sampai 6 PSK di-booking pelanggan," kata Kasat Reskrim Polrestabes Surabaya, AKBP Takdir Mattanete, di Mapolrestabes Surabaya, Kamis 10 September 2015.

Perkiraan keuntungan yang didapat oleh dua muncikari yang menjalankan aksinya selama tiga bulan itu bisa menembus angka Rp1,5 miliar (belum terpotong fee 30 persen untuk tiap PSK terjual alias di-booking).

Menurut Takdir, angka keuntungan itu diperoleh dari jumlah PSK binaannya mencapai 80 orang, yang terdiri dari 60 orang di antaranya masuk member dan selebihnya freelance. PSK binaan dua muncikari itu di tarif rata-rata Rp2 juta untuk sekali kencan.

"Untuk tarif bervariasi. Ada yang lebih dari Rp2 juta per jam. Apalagi, kalau pelanggan meminta untuk bermalam, tarifnya bisa 4 sampai 5 kali lipat dari tarif booking awal," terang AKBP Takdir.

Rata-rata, perempuan di lingkaran dua muncikari tersebut, berusia muda, antara 20-25 tahun. Kebanyakan mahasiswa, model, Sales Promotion Girls (SPG) termasuk berprofesi artis.

Untuk memperlancar bisnis prostitusinya, kedua muncikari itu menggunakan grup Blackberry Messenger (BBM) Princess yang dikelola dengan rapi. Sekitar 65 perempuan cantik, di bawah kendali mereka berdua untuk dijajakan kepada lelaki hidung belang.

"AL dan AS ini mengambil keuntungan 20 sampai 30 persen dari tarif yang diberlakukan untuk satu PSK yang ter-booking. Dari hasil pemeriksaan, muncikari ini juga 'menjual' artis AS," tutur AKBP Takdir.

Dua muncikari tersebut AL asal Palembang, berdomisili di Yogyakarta dan AS warga Purwokerto tinggal di Semarang mengaku kepada penyidik, telah tiga bulan mengelola grup BBM Princess.

Bisnis prostitusi dunia maya di bawah manajemen Princess tersebut menghimpun hampir 80 perempuan penjual seks, dengan tarif bervariasi. "Ada 20 nama di antaranya adalah freelance, termasuk artis AS di luar member Princess," terangnya.

Untuk diketahui, setelah ditetapkan sebagai buron dan masuk Daftar Pencarian Orang (DPO), kedua muncikari prostitusi online bertarif puluhan juta sekali main ini, Alen Saputra dan Alfania Tiyar Sasila, ditangkap Tim Khusus (Timsus) Satreskrim Polrestabes Surabaya di hotel berbeda di kawasan Kemang, Jakarta, pada Rabu 9 September 2015, sekitar pukul 02.00 WIB, dini hari.

Ini bermula dari pengungkapan Polrestabes Surabaya yang membuahkan hasil, dengan menangkap 4 SPG, kemudian dikembangkan dan menyeret artis seksi AS di sebuah hotel kawasan Surabaya Selatan, usai melayani lelaki hidung belang, Kamis 3 September 2015, dini hari.